<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610</id><updated>2011-07-07T13:28:20.696-07:00</updated><title type='text'>ASROEL_ZHINZHAI</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-3512416187435423412</id><published>2009-06-12T19:46:00.001-07:00</published><updated>2009-06-12T19:46:43.939-07:00</updated><title type='text'>Lisan; Pedang Bermata Dua</title><content type='html'>Lisan; Pedang Bermata Dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mulutmu Harimaumu” atau “Lidah itu tajam laksana pedang” ideom-ideom yang mungkin tidak asing lagi bagi kita, menyiratkan akan pesan bahwa mulut dan lidah yang dzahirnya adalah organ yang tak bertulang tapi memiliki bahaya seganas harimau atau bisa melukai sebagaimana pedang tajam jika ia tidak dipergunakan dengan hati-hati dan bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila lidah tak terkendali, dibiarkan berucap sekehendaknya, alamat kesengsaraan akan segera menjelang. Sebaliknya bila ia terkelola dengan baik , hemat dalam berkata, dan memilih perkataan yang baik-baik, maka sebuah alamat akan datangnya banyak kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisan mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Melalui lisan, orang yang awalnya kafir bisa menjadi muslim yaitu dengan ucapan dua kalimat syahadahnya. Melalui lisan pula, orang yang awalnya adalah seorang muslim bisa menjadi kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ia Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkata, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk,ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap mukallaf hendaklah ia menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara atau diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh, bahkan galibnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa menyamai harganya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lisan Pembawa Kekafiran&lt;br /&gt;Banyak orang yang memiliki persepsi bahwa ucapan-ucapan yang mengandung kekafiran, seperti mencela Allah Subhanahu wa Ta'ala atau Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, atau mencela dien dan semisalnya, tidaklah menjadi sebab pelakunya kafir keluar dari Islam, selama di dalam hatinya masih ada keimanan. Anggapan ini tentu saja keliru karena bertentangan dengan nash dan apa yang telah ditetapkan ahlul ilmi.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryah'.” (QS. Al-Ma`idah: 17)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: 'Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari yang tiga'.” (QS. Al-Ma`idah: 73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mengucapkan perkataan kufur dengan lisannya, dalam keadaan sengaja dan tahu bahwa itu adalah ucapan kufur, maka ia telah kafir lahir dan batin. Tidak boleh bagi kita terlalu berlebihan sehingga harus dikatakan: 'Mungkin saja dalam hatinya ia mukmin'. Siapa yang mengucapkan (kekufuran) itu, maka sungguh dia telah keluar dari Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliaupun menjelaskan hal yang sama ketika membantah pendapat yang menyatakan bahwa ucapan lisan semata tidaklah menyebabkan kekafiran. Beliau berkata: “Sesungguhnya kita mengetahui bahwa orang yang mencela Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya dalam keadaan sukarela bukan karena terpaksa, bahkan orang yang berbicara dengan kalimat-kalimat kufur dengan sukarela dan tidak dipaksa, serta orang yang mengejek Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rasul-Nya dan ayat-ayat-Nya, maka dia telah kafir lahir batin.” (Majmu'ul Fatawa, 7/368)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Canda Berujung Petaka&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, "Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur'an ini (yaitu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau), kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh." (Mendengar hal ini), Auf bin Malik Radhiyallahu 'Anhu berkata kepada orang tersebut, "Engkau dusta, kamu ini munafik. Akan aku laporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.” Maka Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu pun pergi menghadap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Namun sebelum Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersendau gurau dengan menjadikan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai bahan bercanda mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang tadi berkata, "Wahai Rasulullah, kami tadi hanyalah bersendau gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!" Ibnu Umar (salah seorang sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang berada di dalam rombongan) bercerita, "Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, ‘Kami tadi hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah), "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman." (At-Taubah: 65-66). Beliau mengucapkan itu tanpa berpaling kepada orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu." (HR.Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan yang dianggap dan dengan niat bercanda saja bisa menyeret pelakunya pada kekafiran apalagi jika perkataan tersebut dilisankan dengan serius dan niat awalnya memang untuk mengolok-olok ataupun meremehkan agama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan Bicara, Kapan Diam&lt;br /&gt;Di saat kita hendak berkata-kata, tentunya kita harus berpikir untuk memilihkan hal-hal yang baik untuk lidah kita. Bila sulit mendapat kata yang indah dan tepat maka lebih baik diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah realisasi dari sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam; "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam” (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahîh Muslim, menjelaskan, “Maknanya, bahwa jika ia ingin berbicara, jika apa yang ingin ia bicarakan adalah baik, mendapatkan pahala, baik yang wajib atau mandub, maka hendaknya ia berbicara. Sebaliknya, jika tidak tampak bahwa itu baik dan mendapatkan pahala,  hendaknya ia diam tidak berbicara, baik tampak bahwa itu adalah haram, makruh atau mubah yang memuat (kemungkinan) kedua sisi (baik dan buruk). Atas dasar ini, meninggalkan perkataan mubah itu adalah diperintahkan dan sunnah untuk menahan diri darinya karena khawatir terjerumus pada yang haram atau makruh. Inilah yang biasanya terjadi pada banyak orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hadits ini mengandung dua poin. Pertama: dorongan (perintah) untuk mengatakan yang baik, yaitu sesuatu yang diridhai Allah.  Menurut al-Munawi, hadits ini memberi faedah bahwa perkataan yang baik itu lebih dikedepankan daripada diam karena perintah itu disebutkan lebih dulu, dan bahwa diam itu diperintahkan pada saat tidak berkata yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: perintah untuk diam, yaitu perintah untuk tidak mengatakan yang buruk, yang dibenci atau dimurkai oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, setiap orang hendaknya berpikir dulu sebelum berbicara. Jika yang akan dia katakan diridhai Allah, menjelaskan kebenaran, mendorong orang untuk taat dan memperjuangkan syariah, amar makruf nahi mungkar, membela Islam dan kaum Muslim dan sebagainya maka yang seperti ini justru harus dikatakan dan tidak boleh diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika yang akan dikatakan itu dibenci Allah; termasuk seruan kemaksiatan dan ketidaktaatan; memerintahkan yang mungkar dan melarang yang ma’ruf; membela dan mendorong kekufuran dan kesesatan; membuat orang meragukan Islam, al-Quran dan as-Sunnah; tidak membela Islam dan kaum Muslim bahkan sebaliknya meremehkan, melecehkan dan menyerang Islam dan kaum Muslim; dan sebagainya; maka yang diperintahkan adalah diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk senantiasa membimbing amalan-amalan kita termasuk dalam menjaga lisan-lisan dari perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat terlebih apa yang Dia murkai yang pada akhirnya bisa menyeret kita kepada neraka-Nya. Sebaliknya, mudah-mudahan lisan kita selalu dalam kebaikan, bermanfaat buat sesama dan agama kita dan menjadi salah satu sebab kita dalam menggapai surga-Nya. Amin.&lt;br /&gt;Wallahu Muwaffiq (AF/wimakassar.org)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-3512416187435423412?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/3512416187435423412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/06/lisan-pedang-bermata-dua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/3512416187435423412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/3512416187435423412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/06/lisan-pedang-bermata-dua.html' title='Lisan; Pedang Bermata Dua'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-6879704877753410528</id><published>2009-06-12T19:34:00.000-07:00</published><updated>2009-06-12T19:43:05.883-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Tiap Suku Mempunyai Tempat Minum Masing-Masing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing.” (QS. Al A’raf: 160).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaksempurnaan adalah hal yang biasa dan pasti ada pada diri seorang makhluk yang bernama manusia biasa. Itu adalah ketentuan-Nya yang tentu saja dibalik itu terkandung hikmah yang sangat banyak meski oleh sebagian kita kadang menganggapnya sebagai kekurangan bahkan kehinaan pada kondisi tertentu. Tiap manusia punya celah, punya kekurangan tak berbilang, namun tiap manusia pasti mempunyai kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kemasyarakatan, keanekaragaman adalah lumrah bahkan memang sudah seharusnya begitu agar hidup tetap seimbang. Beranekaragamnya keahlian, minta, bakat, profesi, keinginan, kemampuan dan sebagainya adalah tanda kebesaran Allah. Kita tidak bisa bayangkan jika semua orang dalam satu keinginan, misalnya semua ingin pekerjaan yang sama karena keahlian mereka sama, yakin kehidupan akan kacau, dan pincang dan mungkin lumpuh sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya tidak semua bisa kita peroleh atau mengerjakannya sendiri meski perbendaharaan langit dan bumi kita milik tapi harus ada pihak ketiga yang kita dan mereka saling membutuhkan. Pasti, karena kita memang tidak sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengibaratkan kaum mu'minin ibarat satu tubuh, dimana dalam berbagai keadaan semua organ harusnya turut andil, punya kontribusi tanpa kecuali. Dalam satu tubuh yang lengkap mesti ada yang menjadi kaki, tangan, kepala, hidung telinga, mata dan seterusnya. Semua menikmati apapun posisi mereka dan qana'ah dengan tugas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya begitulah kaum muslimin, perbedaan tugas, strata, keahlian tidaklah dipandang sebagai bahan berpecah, apalagi untuk hasad atau memandang remeh yang lain.Selama berpijak di atas pondasi tauhid, tak layak ‘tubuh’ itu diceraiberaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arogan, mau menang sendiri, merasa paling benar dan jago adalah godam peretak sendi-sendi penghubung ‘tubuh’ itu. Tapi mau tak mau harus diakui semua harus merasakan perih, sakit ketika salah satu organ teramputasi. Mereka harus buta jika kehilangan mata, mereka akan pesot jika kaki tidak ada. Karena tangan bukan untuk berjalan, dan telinga hanya untuk mendengar bukan untuk melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkup keluarga, lembaga, antar lembaga, komunitas hingga kaum muslimin seluruhnya panganalogian di atas tetap berlaku. Misalnya dalam suatu lembaga atau organisasi meski orang-orang yang berada di dalamnya mempunyai pandangan yang sama tetapi mereka harus siap melakoni peran yang berbeda sesuai dengan keahlian dan kecenderungannya masing-masing. Sekecil apapun peran itu dan serendah apapun tingkatannya tapi mereka semua tidak bisa diabaikan, mereka semua berjasa dan mereka semua adalah ‘pahlawan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkup yang lebih makro, antar organisasi Islam misalnya, maka kitapun mendapati sesuatu yang lebih plural, meski sekali lagi mempunyai visi yang sama tapi di tengah kehidupan dan problem yang kompleks tak semua akan memilih dan memiliki misi yang sama. Mereka adalah manusia-manusia biasa yang tidak bisa mengerjakan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, kaum muslimin tanpa terkecuali tak bisa dipisahkan, kita semua saling membutuhkan untuk saling melengkapi. Kadang perbedaan adalah anugerah yang harus disyukuri bukan untuk disesali, dicela atau saling mencari celah yang hanya akan menghilangkan berkah dan malah membuat lumpuh. Kebenaran sudah jelas, begitupun sumber dan sandarannya, ketika ada yang tersalah maka kewajiban untuk saling islah dengan hikmah. Dan ketika ada yang berbeda bukan berarti serta merta sesat atau menyempal, sebab mungkin saja kita minum dari mata air yang sama tapi ditempat yang berbeda, karena memang “tiap suku mempunyai tempat minum masing-masing.” Wallahu Ta’ala A’lam. (AF/wimakassar.org)&lt;br /&gt;12 Jumadil Tsani’ 1430 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-6879704877753410528?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/6879704877753410528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/06/tiap-suku-mempunyai-tempat-minum-masing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/6879704877753410528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/6879704877753410528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/06/tiap-suku-mempunyai-tempat-minum-masing.html' title=''/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-7152328344504387977</id><published>2009-03-24T02:32:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T02:32:08.112-07:00</updated><title type='text'>Blogger Buzz: Show off your Followers</title><content type='html'>&lt;a href="http://buzz.blogger.com/2008/08/show-off-your-followers.html"&gt;Blogger Buzz: Show off your Followers&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-7152328344504387977?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://buzz.blogger.com/2008/08/show-off-your-followers.html' title='Blogger Buzz: Show off your Followers'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/7152328344504387977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/blogger-buzz-show-off-your-followers.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/7152328344504387977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/7152328344504387977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/blogger-buzz-show-off-your-followers.html' title='Blogger Buzz: Show off your Followers'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-3021985000512049485</id><published>2009-03-23T21:41:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T21:45:36.937-07:00</updated><title type='text'>BERHATI-HATILAH DENGAN PENYALAHGUNAAN PERANGKAT TEKNOLOGI</title><content type='html'>BERHATI-HATILAH DENGAN PENYALAHGUNAAN PERANGKAT TEKNOLOGI     PDF      Cetak      E-mail&lt;br /&gt;Ditulis oleh Administrator   &lt;br /&gt;Rabu, 20 Pebruari 2008&lt;br /&gt;KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT&lt;br /&gt;BERHATI-HATILAH DENGAN PENYALAHGUNAAN PERANGKAT TEKNOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERKEMBANGAN teknologi informasi dewasa ini memang semakin mempermudah pekerjaan kita dan membuat hidup semakin nyaman. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap perkembangan teknologi pasti akan menghadirkan ekses dan dampak negatif bagi masyarakat.&lt;br /&gt;Indonesia sebagai Negara berkembang dengan sistem hukum yang carut marut serta kesadaran masyarakat yang rendah lebih banyak menjadi objek pengguna teknologi ketimbang sebagai pembuat teknologi seperti Negara-negara maju lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan pola pikir dan tingkah laku masyarakat Indonesia dewasa ini misalnya, sangat banyak dipengaruhi oleh tontonan yang berasal dari stasiun televisi yang menyajikan beragam film dan tayangan yang kurang mendidik. Pergaulan bebas dan ekspose keindahan tubuh wanita baik melalui iklan, sinetron atau berbagai jenis acara lainnya menjadi bagian dari tontonan sehari-hari di semua stasiun televisi.&lt;br /&gt;Maraknya perzinahan yang mungkin selama ini masih tersembunyi kini dengan mudah diketahui karena perkembangan teknologi yang memungkinkan aktivitas tersebut diketahui oleh umum akibat kemudahan penggunaan kamera dan duplikasi video via Komputer, Internet, blue tooth maupun segala fasilitas yang dimiliki Telepon seluler. Apalagi saat ini terjadi kecenderungan bahwa sebagian umat Islam juga sudah kehilangan rasa malu dengan tidak adanya rasa berdosa bahkan bangga menampilkan adegan dosa mereka kepada publik. Hal ini mungkin terjadi karena memang dalam sistem hukum Indonesia pelaku perzinahan memang tidak dapat dihukum secara yuridis, sehingga tidak ada lagi rasa takut melakukan dosa tersebut. Diangkatnya rasa malu ini memang telah diramalkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai bagian dari tanda-tanda kiamat yang kita rasakan saat ini.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;ãä ÃÔÑÇØ ÇáÓÇÚÉ Ãä íÞá ÇáÚáã¡ æíÙåÑ ÇáÌåá, æíÙåÑ ÇáÒäì¡ æíÞá ÇáÑÌÇá æÊßËÑ ÇáäÓÇÁ¡ ÍÊì íßæä áÎãÓíä ÇãÑÃÉ ÇáÞíã ÇáæÇÍÏ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di antara tanda-tanda kiamat bila ilmu (syar’i) menjadi sedikit (kurang), dan kebodohan menjadi tampak serta perzinahan menyebar di mana-mana, kaum pria jumlahnya sedikit dan kaum wanita jumlahnya semakin banyak sehingga untuk lima puluh wanita perbandingannya satu orang pria” (HR.Bukhori-Muslim)   &lt;br /&gt;Jika kemajuan teknologi tidak dibarengi dengan sistem hukum yang baik dalam masyarakat serta pendidikan yang berakhlaq maka dampak dari fitnah bisa benar-benar akan terasa bagi segenap kaum Muslimin. Maraknya penggunaan teknologi yang sering disalahgunakan menjadi alasan mengapa kita perlu waspada dikarenakan bisa saja kita menjadi korban dari orang lain yang menyalahgunakan teknologi. Ketidakpahaman kaum Muslimin dan Muslimat terhadap pengunaan perangkat teknologi bisa saja membuat orang-orang yang memang selama ini sering berbuat iseng karena kebodohannya kemudian mengorbankan mereka. Sadar atau tidak sadar perbuatan tersebut membahayakan, dapat merusak, menebar fitnah dan mempermalukan orang lain khususnya kaum wanita yang sering menjadi objek pelecehan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan kamera CCTV yang sekarang lagi ngetren untuk memantau setiap perbuatan kejahatan memang sangat bermanfaat, namun tidak sedikit penggunaannya disalahgunakan. Dengan teknologi satelit dan penginderaan jarak jauh bahkan mungkin hampir tidak ada lagi tempat yang bersifat privacy bagi seseorang saat ini. Beberapa kasus di Negara maju seperti Amerika dan Eropa  bahkan demi alasan keamanan seorang wanita harus melewati segala macam bentuk pemeriksaan fisik dengan sinar X (X ray) atau infra merah yang memungkinkan bagian yang tertutupi pun akan nampak pada kamera televisi khusus. Celakanya rekaman seperti ini kadang diekspose oleh mereka yang tidak bertanggungjawab melalui situs-situs bernuansa x-rate di internet.&lt;br /&gt;Pengakses internet di Indonesia memang belum banyak, hanya berkisar 14,4 juta atau 6,6% dari total penduduk. Namun Indonesia menduduki peringkat ketiga kasus cyber crime di dunia. Posisi ketiga itu sudah mending, sebab pada 2002 menurut data e-commerce Indonesia menduduki peringkat kedua di bawah Ukraina. Sementara untuk menjerat pelaku kejahatan di Internet masih sangat sulit, selain undang-undang kejahatan cyber belum ada kitapun harus extra sabar menunggu anggota dewan yang terhormat mengesahkan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi akibat para anggota dewan disibukkan dengan urusan lain yang “mungkin tidak kalah pentingnya” atau kesibukan jelang pemilu 2009. Ditambah pula aparat keamanan dan pihak berwajib kita belum memiliki kemampuan dan alat canggih yang bisa melacak pelaku kejahatan di Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mabes Polri sebenarnya sudah ada reskrimsus cyber crime di Bareskrim. Dan untuk mendukungnya dibentuk satuan tugas Indonesia Computer Emergency Response Team. Anggotanya beberapa peminat teknologi informasi dari Bank Indonesia, kejaksaan dan penyelenggara jasa internet Indonesia yang bisa membantu tugas aparat dan sebagai penyidiknya tetap diserahkan kepada polisi. Namun satuan tugas ini hanya sebagai pendukung. Tidak semua pakar telematika mau bergabung dalam satuan tugas ini karena tidak sedikit dari mereka dulunya adalah pelaku cyber crime, pelindung atau minimal takut kepada hukum, sebab banyak pakar IT yang dulunya adalah hacker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi telah masuk ke masyarakat hingga ke pelosok desa melalui program-program edukasi dari pemerintah dan Indonesia tidaklah terlalu ketinggalan. Hanya saja banyak yang menyalahgunakan teknologi akibat berbagai faktor seperti tekanan ekonomi, pengangguran, kebencian yang bernuansa SARA hingga sekedar iseng. Misalnya, banyaknya SMS palsu, carder (pembeli barang-barang dari internet dengan account perbankan milik orang lain), blog atau situs palsu, friendster yang digunakan untuk memalsukan identitas seseorang, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya seperti pembajakan software (Piracy), Hacker baik insider hacker maupun viruses, judi virtual, cyber-stalking, hate site, Criminal communications hingga pornografi yang menjadi situs tujuan terbesar bagi para pengguna internet di Indonesia khususnya kalangan remaja dan pelajar. Dalam tataran hukum, kasus-kasus tersebut tidak bisa diselesaikan dengan hukum formal, karena kita bersama memaklumi lemahnya sistem dan penegakan hukum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum Muslimin yang memiliki kemampuan dalam teknologi informasi dan komputer diharapkan peran sertanya dalam meminimalkan dampak buruk dari pesatnya teknologi informasi saat ini. Sebenarnya kita tidak perlu khawatir dengan perkembangan teknologi namun yang harus kita lakukan adalah belajar dan berusaha memahami setiap tujuan penggunaan suatu produk. Dalam dunia intelejen dikenal bahwa kecanggihan perangkat teknologi yang digunakan oleh seseorang haruslah sebanding dengan kecerdasan penggunanya. Masyarakat Indonesia yang kebanyakan awam dan umumnya tidak mengerti bahasa Inggris memang sering menjadi korban teknologi yang mereka gunakan sendiri. Jarang seseorang membaca baik-baik buku manual sebuah barang yang dibelinya karena merasa sudah tahu dari pengalaman kawan-kawannya misalnya. Padahal buku manual penting untuk menjelaskan detail dan semua spesifikasi produk. Seperti sebuah AlQuran menjadi buku petunjuk bagi manusia jika ingin selamat di dunia dan akhirat. Berbagai kesalahan ataupun ma’shiat yang dibuat oleh umat Islam baik secara sadar maupun tidak sadar yang sempat terekam oleh kamera banyak diekspose oleh umat Kristiani dan orang-orang bodoh yang memang selalu ingin menampakkan kejelekan umat Islam sebagai counter attack mereka terhadap ajaran Islam yang suci.&lt;br /&gt;Bagi kaum Muslimin khususnya para wanita agar lebih berhati-hati dalam melakukan segala aktivitasnya di tengah-tengah fitnah yang mulai nampak di zaman ini. Kecanggihan teknologi yang disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab sudah cukup memprihatinkan kita yang hampir setiap saat kita lihat melalui media televisi dan internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Anda berada di luar rumah atau dimanapun perhatikanlah hal-hal berikut :&lt;br /&gt;1.Diharapkan agar segenap keluarga kaum Muslimin tidak membiasakan berfoto-foto tanpa busana yang menutup aurat terutama dengan telepon seluler, terlebih lagi mengabadikan adegan-adegan suami istri sekalipun untuk konsumsi pribadi. Kita mungkin tidak berfikir akibatnya. Jika telepon itu hilang karena taqdir Allah dan jatuh ke tangan mereka yang iseng tanpa sengaja atau disengaja ia memasukkannya ke Internet maka akan diakses oleh jutaan pengguna internet dan para penikmat situs porno di seluruh dunia. Dan suatu kemustahilan untuk menghapus file tersebut jika telah tersebar melalui Internet karena umunya pengguna internet akan meng-copy-nya sebagai arsip dan sangat mungkin akan menyebarkannya lagi kepada orang lain melalui blog atau email.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Jangan sembarangan buang air atau membuka aurat/ganti pakaian di kamar mandi yang tidak jelas atau tidak dikenal seperti wc umum di mal/plaza, tempat-tempat rekreasi, wc hotel, kamar ganti dan tempat sejenisnya. Kasus terungkapnya video rekaman artis dikamar ganti beberapa tahun lalu yang menyeret pelakunya ke penjara dapat menjadi pelajaran bagi setiap wanita. Bila masuk ke tempat-tempat mencurigakan atau ke tempat yang sifatnya pribadi bagi wanita perhatikanlah setiap sudut ruangan dan benda-benda yang mencurigakan yang mungkin saja ada kamera CCTV tersembunyi. Bila kamera tersebut dipasang dibelakang cermin para wanita dapat melakukan tes sederhana untuk mengetahui apakah cermin tersebut merupakan cermin asli atau cermin yang dibelakangnya ada kamera video. Letakkan ujung jari anda pada cermin, bila ada jarak antara ujung kuku jari anda dengan bayangannya di cermin maka cermin itu asli. Namun bila ujung kuku anda bertemu langsung dengan ujung kuku bayangannya maka kemungkinan cermin itu bukan cermin asli dan bisa jadi dibelakangnya ada kamera tersembunyi atau ruangan lain tempat mengintip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Bagi pasangan suami-istri, hendaklah tidak melakukan aktivitas seksual disembarang tempat yang tidak dikenal seperti kamar hotel sebelum memeriksa keadaan kamar dengan baik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Bagi kaum muslimah yang mengenakan busana menutup aurat hendaklah mengenakan pakaian dengan warna gelap sebab sekalipun tertutup namun warna yang digunakan cerah seperti warna putih akan mudah ditembus oleh sinar infra atau sinar X, bahkan cahaya mataharipun dapat menembusnya. Upayakan pula untuk tidak memakai pakaian dari bahan sintetis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Hendaknya setiap kaum Muslimin menjaga istri-istri, saudara wanita dan putri-putri mereka serta segenap keluarga mereka dari segala aktivitas yang dapat membahayakan kaum wanita, juga menjaga pergaulan mereka dari orang-orang yang kemungkinan dapat berniat jahat. Termasuk mengarahkan mereka agar mengenakan busana Muslimah dengan baik dan benar. Busana menutup aurat yang benar adalah yang memenuhi syarat tidak transparan dan tidak ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Hendaknya kita senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu Wata'ala sebagai satu-satunya penolong dan memohon perlindunganNya dari segala musibah yang mungkin dapat menimpa kita dan saudara-saudara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHUKAH ANDA ? ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Hidden camera dalam bentuk mini camera (web cam) dalam berbagai model saat ini sangat mudah diperoleh diberbagai pusat elektronik dengan harga cukup murah (berkisar ratusan ribu), dan dapat dipasang di mana saja dengan hasil kualitas gambar yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Sudah ada kamera digital, teropong dan HandyCam dengan kemampuan melihat tembus pandang seperti lensa kaca mata James Bond. Terdapat pula kamera yang dapat melihat dalam kegelapan (Night Vision).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Terdapat juga lensa yang dapat diupgrade untuk kamera handphone atau digicam dengan kemampuan menembus kain berbahan sintetis sehingga dapat melihat bagian tubuh seseorang seperti tanpa busana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Terdapat beberapa situs Internet yang bermuatan X-rate menampilkan dengan vulgar hasil tangkapan amatiran foto-foto wanita yang tidak menyadari sedang diambil gambarnya dalam ruangan-ruangan seperti WC, kamar hotel, kamar ganti dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Sudah banyak jenis virus komputer terbaru bahkan buatan lokal yang menampilkan hal-hal tidak senonoh seperti foto wanita tanpa busana atau sejenisnya yang dapat menyerang setiap komputer. Yang namanya virus sulit untuk diketahui keberadaannya, siapapun dapat terjangkiti. Sehebat apapun AntiVirus yang anda pakai, yang namanya virus tetap virus, ibarat Polisi dan Penjahat. Bagaimana jika anda melakukan presentasi di depan umum atau di dalam Masjid tiba-tiba virus seperti itu muncul ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Banyak perangkat teknologi dewasa ini diciptakan untuk kemudahan namun justeru berbahaya di sisi lain. Berhati-hatilah menggunakan blue tooth atau wireless dan sejenisnya pada Laptop Komputer atau Ponsel anda. Anda mungkin saja tidak menyadari jika data anda dicuri dari jarak jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Kemampuan satelit khususnya yang dimiliki negara-negara non muslim mampu merekam aktivitas manusia hampir di setiap jengkal tanah tempat kita berpijak. Gambar-gambar hasil foto satelit bahkan dengan mudah dapat diakses melalui internet misalnya dengan Google Earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi berhati-hatilah, karena tidak seorangpun dari kita aman dari kejahatan. Ingatlah bahwa kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya namun juga karena ada kesempatan maka waspadalah, waspadalah...&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat dan semoga Allah Subhanahu Wata’ala melindungi kaum Muslimin dari fitnah akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAFTANI MUHAMMAD RIDWAN&lt;br /&gt;Pemerhati Dakwah Teknologi Informasi,&lt;br /&gt;DepInfokom DPP Wahdah Islamiyah,&lt;br /&gt;Pengajar pada STMIK-Handayani Makassar, &lt;br /&gt;Ketua Qumran Foundation Makassar.&lt;br /&gt;saftaniaja@yahoo.co.idE-mail ini dilindungi dari spam bots, kamu perlu mengaktifkan JavaScript utk melihatnya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 20 Pebruari 2008 )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-3021985000512049485?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/3021985000512049485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/berhati-hatilah-dengan-penyalahgunaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/3021985000512049485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/3021985000512049485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/berhati-hatilah-dengan-penyalahgunaan.html' title='BERHATI-HATILAH DENGAN PENYALAHGUNAAN PERANGKAT TEKNOLOGI'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-4381802945976097195</id><published>2009-03-23T19:01:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T19:14:15.649-07:00</updated><title type='text'>MAHRAM</title><content type='html'>Mahram     PDF      Cetak      E-mail&lt;br /&gt;Ditulis oleh Administrator   &lt;br /&gt;Jumat, 20 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahram, kata ini sering keliru diucapkan dengan "muhrim". Sayangnya, yang lebih akrab dengan lidah kita adalah kata yang terakhir ini. Padahal artinya jauh berbeda. Muhrim adalah orang yang berihram, sedangkan yang dimaksud dengan mahram adalah orang-orang yang haram dinikahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang menjadikan seseorang mahram. Tidak hanya sebatas hubungan darah (baca: nasab), namun masih ada beberapa hal lagi. Seorang muslim perlu tahu akan hal ini, agar tidak terjatuh pada perbuatan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian Mahram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang haram dinikahi ada dua macam, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Mahram Mu’abbad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni para wanita yang haram dinikahi untuk selama-lamanya. Mereka berjumlah empat belas orang. Tujuh orang diharamkan karena nasab dan tujuh orang diharamkan  karena suatu sebab. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam firman Allah Subhaanahu Wata'ala surah An-Nisa ayat 22-23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ayat di atas, maka mahram terdiri dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Yang diharamkan karena nasab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ibu, nenek  dan seterusnya ke atas, dari pihak bapak maupun pihak ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Anak perempuan, cucu perempuan  dan seterusnya ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Saudara perempuan, baik dari pihak bapak maupun pihak ibu (yang sebapak seibu atau yang sebapak atau seibu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bibi (dari arah bapak), dan seterusnya ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bibi (dari arah ibu), dan seterusnya ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Anak perempuan, dari saudara laki-laki ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Anak perempuan, dari saudara perempuan dari segala arah meskipun ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Yang diharamkan karena suatu sebab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wanita yang telah dili’an (dilaknat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami haram menikahi wanita yang telah di-li’an-nya untuk selama-lamanya, karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suami istri yang telah saling melaknat, jika keduanya telah bercerai maka tidak boleh menikah lagi selama-lamanya.” (HR. Imam Abu Dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diharamkan karena susuan sebagaimana diharamkan karena nasab. Maka setiap wanita yang diharamkan karena nasab, mereka juga haram karena susuan. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wata'ala, artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan.” (QS. An-Nisa: 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Rasulullah Subhaanahu Wata'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Diharamkan karena susuan sebagaimana diharamkan karena nasab.” (Muttafaqun 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Haram karena akad yakni istri ayahnya dan istri kakeknya.&lt;br /&gt;''Janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu.” (QS. An-Nisa: 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Diharamkan istri anak laki-lakinya (menantu) dan seterusnya ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5-6. Diharamkan bagi seorang laki-laki menikahi ibu istrinya(mertua) dan nenek-nenek istrinya karena telah ada akad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Diharamkan pula anak perempuan istri dan anak-anak perempuan dari anak laki-lakinya jika ia telah bercampur dengan istrinya yang merupakan ibu mereka. Jadi dalam hal ini ada syarat jima' (hubungan suami isteri) dengan istrinya yang merupakan ibu mereka. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhaanahu Wata'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya.” (QS. An-Nisa: 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Mahram Muaqqat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni para wanita yang haram dinikahi secara kontemporer atau untuk sementara waktu. Yang demikian ini ada dua macam, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Diharamkan karena penggabungannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Haram menggabungkan dua wanita yang bersaudara (sekandung, sebapak, atau sepersusuan) dalam satu ikatan perkawinan. Jika seorang laki-laki menikahi  dua orang wanita yang bersaudara sekaligus, secara bersamaan, maka batal akad nikahnya, sedangkan jika tidak bersamaan, maka akad yang kedua batal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula diharamkan menggabungkan antara seorang perempuan dengan bibi dari ayahnya maupun dari ibunya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, ''Tidak boleh digabungkan antara seorang perempuan dengan bibinya dari pihak ayahnya dan tidak boleh digabungkan antara seorang perempuan dengan bibi dari ibunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah dari pelarangan ini telah disebutkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sejak 14 abad yang lalu, yaitu akan memutuskan tali silaturahim di antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang wanita diceraikan dan telah habis masa iddahnya, maka saudara perempuan dari wanita itu, bibi dari ayahnya, dan bibi dari ibunya menjadi halal karena telah hilang hal-hal yang dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak boleh mengumpulkan lebih dari empat perempuan dalam satu ikatan perkawinan. Jika terlanjur telah menikah demikian, maka wajib baginya untuk menceraikan sehingga hanya terkumpul empat orang istri saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mereka yang pengharamannya karena penyebab yang bisa hilang (jika sebab itu hilang maka menjadi halal baginya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Saudara perempuan istri (ipar), bibi istri (baik dari jalur ayah atau ibu) hingga istri tersebut dicerai dan masa iddahnya habis atau meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wanita yang bersuami hingga ia bercerai dengan suaminya, atau menjanda dan masa iddahnya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wanita yang sedang menjalani masa iddah, baik karena perceraian atau karena suaminya meninggal, hingga masa iddahnya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wanita yang sedang ihram (muhrimah) hingga ia bertahallul dari ihramnya. Demikian pula seorang laki-laki yang sedang ihram tidak boleh melakukan akad nikah dengan wanita yang sedang berihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wanita yang telah ditalak tiga, hingga ia  menikah dengan suami lain dan berpisah dengannya karena perceraian atau suaminya meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Diharamkan menikahi wanita pezina hingga ia bertaubat dan habis masa iddahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah penjabaran mahram dalam surah An-Nisa dan beberapa hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Tapi perlu diingat, pembicaraan dalam ayat dan hadits tersebut di atas walaupun ditujukan langsung kepada laki-laki, tidaklah menunjukkan bahwa di dalam ayat ini tidak dijelaskan tentang siapa mahram bagi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan) seperti dalam surah An-Nisa itu menjelaskan hal tersebut. Misalnya disebutkan dalam ayat,  “Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian”, maka mafhum mukhalafahnya adalah: “Wahai para ibu, diharamkan atas kalian menikah dengan anak-anak kalian.” Misal lain, disebutkan dalam ayat: “Dan anak-anak perempuan kalian.” Maka mafhum mukhalafahnya adalah: “Wahai anak-anak perempuan, diharamkan atas kalian menikah dengan ayah-ayah kalian.” Dan demikian seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AWAS, BUKAN MAHRAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain yang telah disebutkan di atas, maka bukan mahram. Sehingga berlaku semua ketentuan syariat yang berkaitan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Seperti perintah menundukkan pandangan, larangan berkhalwat (berduaan), larangan saling bersentuhan—termasuk berjabat tangan, dan segala bentuk hubungan yang dapat membuka pintu-pintu zina. Batasan-batasan ini, semuanya telah dijelaskan oleh Allah Subhaanahu Wata'ala dalam al Qur’an, dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam hadits-hadits beliau.Wallahu A’laa wa A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayyub Subandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji':&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Mulakhkhash al Fiqhiy karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan dan sumber-sumber bacaan lainnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-4381802945976097195?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/4381802945976097195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/mahram-pdf-cetak-e-mail-ditulis-oleh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/4381802945976097195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/4381802945976097195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/mahram-pdf-cetak-e-mail-ditulis-oleh.html' title='MAHRAM'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-5427878956773844238</id><published>2009-03-23T18:45:00.001-07:00</published><updated>2009-03-23T18:59:06.990-07:00</updated><title type='text'>JANGAN MAKAN BANGKAI SAUDARAMU</title><content type='html'>Jangan Makan Bangkai Saudaramu     PDF      Cetak      E-mail&lt;br /&gt;Ditulis oleh Administrator   &lt;br /&gt;Sabtu, 21 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Makan Bangkai Saudaramu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah memberi kita begitu banyak nikmat-Nya sampai sampai kita tidak dapat menghitung nikmat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Seandainya kalian mau menghitung-hitung nikmat yang Aku karuniakan kepada kalian niscaya kalian tidak akan mampu untuk menghitungnya (QS 14:34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat didalam diri seorang manusia saja Allah memberikan nikmat yang begitu luar biasa yang tidak dapat dihargai dengan materi sebesar apapun. Diantara nikmat yang Allah berikan kepada kita yang tidak ternilai harganya adalah dilengkapinya pada bagian rongga mulut kita dengan Lidah yang membuat kita mampu berkomunikasi dengan baik, merasakan lezatnya makanan. Bukan hanya itu, dengan lidah seorang manusia dapat meraih keutamaan disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu dengan berdzikir, membaca Alqur’an, berbicara yang santun dan baik, kemampuan beretorika dengan indah untuk mengajak seseorang kepada kebaikan serta keutamaan-keutamaan lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit juga diantara manusia yang binasa disebabkan karena lidahnya, bahkan menjerumuskannya dalam kebinasaan yang sangat besar, Nabi Sallallahu ‘alahi wassalam bersabda : “Yang paling banyak memasukan manusia kedalam neraka adalah dua lubang, mulut dan kemaluan (HR. Thirmidzi), juga dalam hadits yang lain Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan : “Dan tidak ada yang menjerumuskan manusia kedalam neraka melainkan akibat lisan-lisan mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk  menjalankan perintah Allah Ta’ala dengan baik, bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi Sallallahu ‘alahi wasallam, mampu menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khamar, bahkan mampu untuk sholat malam setiap harinya, senantiasa puasa senin kamis, namun ...... mereka tidak mampu menghindarkan lidahnya dari perbuatan ghibah, bahkan walaupun mereka telah tahu bahwa ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan perbuatan ghibah dengan penggambaran yang sangat hina dan menjijikan, dimana Allah menyamakan orang yang melakukan ghibah sama dengan memakan bangkai saudaranya, Allah Subhanahu wa ta’la berfirman: ............ dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS 49 :12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah menyamakan perbuatan ghibah dengan memakan daging saudara kita yang telah menjadi bangkai, yang mana hal ini sangat dibenci oleh manusia dan merupakan puncak kebencian. Memakan bangkai hewan yang busuk saja menjijikan, namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara kita sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim yang semakin menambah rasa jijik kita akan perbuatan ghibah, yaitu kisah yang diceritkan oleh sahabat Amru bin Ash radiallahu ‘anhu yang melewati bangkai seekor begol (hasil persilangan kuda dan keledai), maka beliau berkata : “ Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu besar ancaman bagi pelaku ghibah yang disiapkan oleh Allah maka kita perlu mawas diri, terkadang kita tidak sadar atau tidak mengetahui bahwa apa yang sedang kita perbincangkan adalah ghibah. Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tahukah kalian apa itu ghibah? Sahabat menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Nabi berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu, Sahabat bertanya kembali : “Bagaimana pendapaatmu jika itu benar adanya? Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang engkau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya (memfitnahnya)”. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud radiallahu ‘anhu berkata : “Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang engkau ketahui pada saudaramu, dan jika engkau mengatakan yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan”. Dari keterangan tersebut maka ulama kita menjelaskan yang dimaksud dengan ghibah adalah menceritakan sesuatu yang ada pada saudara kita yang mana hal tersebut tidak ia sukai, baik itu mengenai agamanya, ahlaknya, fisiknya, ataupun nasabnya. Ghibah itu bisa dengan perkataan yang jelas atau dengan yang lainnya seperti isyarat dengan perkataan atau dengan bibir atau mata dan yang lainnya, yang penting dapat dipahami bahwasanya hal itu adalah merendahkan saudaranya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan bahaya ghibah , syariat juga memberikan penjelasan mengenai keadaan  yang dipandang maslahat bagi pribadi maupun bagi ummat  yang tidak bisa dicapai kecuali dengan jalan berghibah, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Pengaduan, maka dibolehkan bagi orang yang teraniaya mengadu kepada penguasa atau hakim dan yang selainnya yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk mengadili orang yang menganiaya dirinya, Allah Ta’ala berfirman : ”Allah tidak menyukai ucapan yang buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali orang yang teraniaya”. (QS 4:148),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan   pelaku kemaksiatan kepada kebenaran, dan hendaknya tujuannya adalah sebagai sarana untuk menghilangkan kemungkaran, jika niatnya tidak demikian maka hal ini adalah haram,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga,. Meminta fatwa atas persolaan yang dihadapi dan sebaiknya tidak menyebut nama jika hal itu memungkinkan. Keempat, Memperingatkan kaum muslimin dari suatu bentuk kejelekan, dimana pelaku sudah terang-terangan melakukan kejelekan dan kefasikan, Aisyah radiallahu anha berkata : “Seseorang datang meminta izin kepada Rasulullah, maka Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “izinkanlah ia, ia adalah sejahat-jahat orang ditemngah kaumnya”. (HR. Bukhari Muslim). Namun diharamkan menyebutkan aib-aibnya yang lain yang tidak ia nampakkan kecuali ada sebab lain yang membolehkannya, 5). Untuk pengenalan, jika seseorang terkenal dengan sebuah laqob (gelaran) seperti si rabun, si pincang, si buta dan yang selainnya maka boleh untuk disebutkan, dan diharamkan menyebutkannya dalam rangka untuk merendahkan. Adapun jika ada cara lain untuk mengenali mereka  (tanpa harus menyebutkan kekurangannya) maka cara tersebut lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dipungkiri sangat sedikit diantara kita yang bisa selamat dari penyakit ghibah ini, bahkan naudzubillah mungkin ada diantara kaum muslimin yang menjadikan kelakuan yang menjijikan ini menjadi komsumsi sehari-sehari yang didukung oleh berbagai sarana yang memudahkan hal tersebut. Olehnya itu tidak ada kata terlambat, kita harus bertaubat dan meninggal perbuatan keji tersebut, yang menjadi pertanyaan bagaimanakah cara bertobat bagi orang yang pernah menggibahi saudaranya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama kita telah menjelaskan bagaimana cara bertobat bagi orang yang pernah menggibahi saudaranya. Berkata syaikh Utsaimin rahimahullah (ulama besar arab saudi) : “Orang yang pernah membicarakan saudaranya dan merendahkannya dihadapan orang lain, maka ada dua cara yang dapat ditempuh: 1). Bahwa orang yang mengghibah harus datang kepada yang ia ghibahi dan memohon maaf serta meminta kerelaannya atas kesalahan yang ia perbuat, 2). Jika yang dighibahi telah mengetahui, maka ia harus datang dan meminta kerelaannya, namun jika yang dighibahi tidak tahu, cukup dengan memohon ampun untuknya (mendoakannya) dan membicarakan kebaikan-kebaikannya ditempat-tempat ia mengghibahinya, karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan bisa menghilangkan kejelekan-kejelekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kedua inilah yang lebih maslahat sebagiamana dikuatkan oleh perkataan Ibnu Katsir : “Tidak disyaratkan orang yang menghibahi saudaranya meminta penghalalannya. Karena jika ia memberitahu, terkadang orang dighibahi lebih tersakiti jika dibandingkan dia belum tahu, maka jalan keluarnya hendaknya memuji dengan kebaikan-kebaikan yang dimilikinya ditempat-tempat dimana ia telah mencela saudaranya. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kita memohon kepada Allah Azza wa jalla untuk diberikan kekuatan dan hidayah agar kita tidak terjatuh dalam penyakit yang berbahaya ini, bahkan lebih dari itu perlu banyak menahan diri sekuat tenaga untuk tidak berbicara kecuali sesuatu yang bermanfaat bagi pribadi maupun untuk kemaslahatan ummat. Wallahu waliyut taufiq.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-5427878956773844238?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/5427878956773844238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/jangan-makan-bangkai-saudaramu_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/5427878956773844238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/5427878956773844238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/jangan-makan-bangkai-saudaramu_23.html' title='JANGAN MAKAN BANGKAI SAUDARAMU'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-7857245292033368969</id><published>2009-03-23T18:45:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T18:51:46.533-07:00</updated><title type='text'>JANGAN MAKAN BANGKAI SAUDARAMU</title><content type='html'>Jangan Makan Bangkai Saudaramu     PDF      Cetak      E-mail&lt;br /&gt;Ditulis oleh Administrator   &lt;br /&gt;Sabtu, 21 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Makan Bangkai Saudaramu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah memberi kita begitu banyak nikmat-Nya sampai sampai kita tidak dapat menghitung nikmat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Seandainya kalian mau menghitung-hitung nikmat yang Aku karuniakan kepada kalian niscaya kalian tidak akan mampu untuk menghitungnya (QS 14:34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat didalam diri seorang manusia saja Allah memberikan nikmat yang begitu luar biasa yang tidak dapat dihargai dengan materi sebesar apapun. Diantara nikmat yang Allah berikan kepada kita yang tidak ternilai harganya adalah dilengkapinya pada bagian rongga mulut kita dengan Lidah yang membuat kita mampu berkomunikasi dengan baik, merasakan lezatnya makanan. Bukan hanya itu, dengan lidah seorang manusia dapat meraih keutamaan disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu dengan berdzikir, membaca Alqur’an, berbicara yang santun dan baik, kemampuan beretorika dengan indah untuk mengajak seseorang kepada kebaikan serta keutamaan-keutamaan lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit juga diantara manusia yang binasa disebabkan karena lidahnya, bahkan menjerumuskannya dalam kebinasaan yang sangat besar, Nabi Sallallahu ‘alahi wassalam bersabda : “Yang paling banyak memasukan manusia kedalam neraka adalah dua lubang, mulut dan kemaluan (HR. Thirmidzi), juga dalam hadits yang lain Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan : “Dan tidak ada yang menjerumuskan manusia kedalam neraka melainkan akibat lisan-lisan mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk  menjalankan perintah Allah Ta’ala dengan baik, bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi Sallallahu ‘alahi wasallam, mampu menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khamar, bahkan mampu untuk sholat malam setiap harinya, senantiasa puasa senin kamis, namun ...... mereka tidak mampu menghindarkan lidahnya dari perbuatan ghibah, bahkan walaupun mereka telah tahu bahwa ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan perbuatan ghibah dengan penggambaran yang sangat hina dan menjijikan, dimana Allah menyamakan orang yang melakukan ghibah sama dengan memakan bangkai saudaranya, Allah Subhanahu wa ta’la berfirman: ............ dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS 49 :12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah menyamakan perbuatan ghibah dengan memakan daging saudara kita yang telah menjadi bangkai, yang mana hal ini sangat dibenci oleh manusia dan merupakan puncak kebencian. Memakan bangkai hewan yang busuk saja menjijikan, namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara kita sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim yang semakin menambah rasa jijik kita akan perbuatan ghibah, yaitu kisah yang diceritkan oleh sahabat Amru bin Ash radiallahu ‘anhu yang melewati bangkai seekor begol (hasil persilangan kuda dan keledai), maka beliau berkata : “ Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu besar ancaman bagi pelaku ghibah yang disiapkan oleh Allah maka kita perlu mawas diri, terkadang kita tidak sadar atau tidak mengetahui bahwa apa yang sedang kita perbincangkan adalah ghibah. Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tahukah kalian apa itu ghibah? Sahabat menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Nabi berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu, Sahabat bertanya kembali : “Bagaimana pendapaatmu jika itu benar adanya? Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang engkau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya (memfitnahnya)”. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud radiallahu ‘anhu berkata : “Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang engkau ketahui pada saudaramu, dan jika engkau mengatakan yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan”. Dari keterangan tersebut maka ulama kita menjelaskan yang dimaksud dengan ghibah adalah menceritakan sesuatu yang ada pada saudara kita yang mana hal tersebut tidak ia sukai, baik itu mengenai agamanya, ahlaknya, fisiknya, ataupun nasabnya. Ghibah itu bisa dengan perkataan yang jelas atau dengan yang lainnya seperti isyarat dengan perkataan atau dengan bibir atau mata dan yang lainnya, yang penting dapat dipahami bahwasanya hal itu adalah merendahkan saudaranya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan bahaya ghibah , syariat juga memberikan penjelasan mengenai keadaan  yang dipandang maslahat bagi pribadi maupun bagi ummat  yang tidak bisa dicapai kecuali dengan jalan berghibah, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Pengaduan, maka dibolehkan bagi orang yang teraniaya mengadu kepada penguasa atau hakim dan yang selainnya yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk mengadili orang yang menganiaya dirinya, Allah Ta’ala berfirman : ”Allah tidak menyukai ucapan yang buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali orang yang teraniaya”. (QS 4:148),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan   pelaku kemaksiatan kepada kebenaran, dan hendaknya tujuannya adalah sebagai sarana untuk menghilangkan kemungkaran, jika niatnya tidak demikian maka hal ini adalah haram,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga,. Meminta fatwa atas persolaan yang dihadapi dan sebaiknya tidak menyebut nama jika hal itu memungkinkan. Keempat, Memperingatkan kaum muslimin dari suatu bentuk kejelekan, dimana pelaku sudah terang-terangan melakukan kejelekan dan kefasikan, Aisyah radiallahu anha berkata : “Seseorang datang meminta izin kepada Rasulullah, maka Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “izinkanlah ia, ia adalah sejahat-jahat orang ditemngah kaumnya”. (HR. Bukhari Muslim). Namun diharamkan menyebutkan aib-aibnya yang lain yang tidak ia nampakkan kecuali ada sebab lain yang membolehkannya, 5). Untuk pengenalan, jika seseorang terkenal dengan sebuah laqob (gelaran) seperti si rabun, si pincang, si buta dan yang selainnya maka boleh untuk disebutkan, dan diharamkan menyebutkannya dalam rangka untuk merendahkan. Adapun jika ada cara lain untuk mengenali mereka  (tanpa harus menyebutkan kekurangannya) maka cara tersebut lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dipungkiri sangat sedikit diantara kita yang bisa selamat dari penyakit ghibah ini, bahkan naudzubillah mungkin ada diantara kaum muslimin yang menjadikan kelakuan yang menjijikan ini menjadi komsumsi sehari-sehari yang didukung oleh berbagai sarana yang memudahkan hal tersebut. Olehnya itu tidak ada kata terlambat, kita harus bertaubat dan meninggal perbuatan keji tersebut, yang menjadi pertanyaan bagaimanakah cara bertobat bagi orang yang pernah menggibahi saudaranya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama kita telah menjelaskan bagaimana cara bertobat bagi orang yang pernah menggibahi saudaranya. Berkata syaikh Utsaimin rahimahullah (ulama besar arab saudi) : “Orang yang pernah membicarakan saudaranya dan merendahkannya dihadapan orang lain, maka ada dua cara yang dapat ditempuh: 1). Bahwa orang yang mengghibah harus datang kepada yang ia ghibahi dan memohon maaf serta meminta kerelaannya atas kesalahan yang ia perbuat, 2). Jika yang dighibahi telah mengetahui, maka ia harus datang dan meminta kerelaannya, namun jika yang dighibahi tidak tahu, cukup dengan memohon ampun untuknya (mendoakannya) dan membicarakan kebaikan-kebaikannya ditempat-tempat ia mengghibahinya, karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan bisa menghilangkan kejelekan-kejelekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kedua inilah yang lebih maslahat sebagiamana dikuatkan oleh perkataan Ibnu Katsir : “Tidak disyaratkan orang yang menghibahi saudaranya meminta penghalalannya. Karena jika ia memberitahu, terkadang orang dighibahi lebih tersakiti jika dibandingkan dia belum tahu, maka jalan keluarnya hendaknya memuji dengan kebaikan-kebaikan yang dimilikinya ditempat-tempat dimana ia telah mencela saudaranya. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kita memohon kepada Allah Azza wa jalla untuk diberikan kekuatan dan hidayah agar kita tidak terjatuh dalam penyakit yang berbahaya ini, bahkan lebih dari itu perlu banyak menahan diri sekuat tenaga untuk tidak berbicara kecuali sesuatu yang bermanfaat bagi pribadi maupun untuk kemaslahatan ummat. Wallahu waliyut taufiq.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-7857245292033368969?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/7857245292033368969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/jangan-makan-bangkai-saudaramu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/7857245292033368969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/7857245292033368969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/jangan-makan-bangkai-saudaramu.html' title='JANGAN MAKAN BANGKAI SAUDARAMU'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-2236463788335384919</id><published>2009-03-23T18:10:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T18:37:32.484-07:00</updated><title type='text'>PENJELASAN DEWAN SYARI'AH WAHDAH ISLAMIYAH TENTANG PRMILIHAN UMUM</title><content type='html'>PENJELASAN DEWAN SYARI'AH WAHDAH ISLAMIYAH TENTANG PEMILIHAN UMUM     PDF      Cetak      E-mail&lt;br /&gt;Ditulis oleh Administrator   &lt;br /&gt;Senin, 23 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN DEWAN SYARI'AH WAHDAH ISLAMIYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG PEMILIHAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Syariah Wahdah Islamiyah dengan berpedoman pada: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Firman Allah Ta’ala pada Qs. Ali Imran (03): 110&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”&lt;br /&gt;2.    Firman Allah Ta’ala pada Qs. Hud (11): 117&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan”&lt;br /&gt;3.    Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِى سعيد الخدري t قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu. berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. bersabda: Siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran hendaknya ia cegah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan mulutnya, jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman. HR. Muslim (no. 186)&lt;br /&gt;4.    Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَضَى أَنْ « لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ubadah ibn as-Shamit ra. bahwa Rasulullah saw. menetapkan: Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain. HR. Ibnu Majah (no. 2430) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah no. 250.&lt;br /&gt;5.    Kaidah Ushul Fiqh yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا لاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ كُلُّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala yang tidak dapat diwujudkan seluruhnya maka juga tidak ditinggalkan seluruhnya” Disebut di antaranya oleh Imam al-Mulla Ali al-Qari dalam kitabnya Mirqatul Mafatih Syarhu Misykatul Mashabih dalam banyak bab seperti al-Qashdu dan at-Tanzhif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan: Idealisme pada sesuatu jika belum dapat terwujud seluruhnya maka tidak semestinya meninggalkan hal tersebut secara keseluruhan pula. Demikian halnya pada perubahan kondisi umat Islam di Indonesia saat ini, jika belum dapat diwujudkan dengan sistem yang sesuai harapan maka juga tidak berarti meninggalkannya secara keseluruhan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالرُّسُلُ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ بُعِثُوْا بِتَحْصِيْلِ الْمَصَالِحِ وَ تَكْمِيْلِهَا وَ تَعْطِيْلِ الْمَفَاسِدِ وَ تَقْلِيْلِهَا بِحَسَبِ اْلإِمْكَانِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan para Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus untuk mewujudkan segala maslahat atau menyempurnakannya dan menolak segala mafsadat atau menguranginya sesuai kemampuan”. Majmu’ al-Fatawa VIII/93-94.&lt;br /&gt;6.    Kaidah Fiqh yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يُتَحَمَّلُ الضَّرَرُ الْخَاصُ لِدَفْعِ الضَّرَرِ الْعَامِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencegah kemudharatan yang bersifat umum dengan menanggung kemudharatan yang bersifat khusus (adalah boleh)”&lt;br /&gt;7.    Kaidah Fiqh yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا تَعَارَضَتْ مَفْسَدَتَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفّهِمَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika dua mafsadat saling berlawanan maka yang terbesar hendaknya dicegah dengan melakukan yang terkecil”. Kedua kaidah ini disebut oleh Syaikh Ahmad ibn Muhamad az-Zarqa’ dalam kitabnya Syarhul Qawaid al-Fiqhiyah no. 26 dan 28.&lt;br /&gt;Maka Dewan Syariah Wahdah Islamiyah menyampaikan dengan menyebut segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang telah menyempurnakan Islam dengan mengutus Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. yang membawa manhaj dan jalan hidup yang haq, sehingga tidak ada lagi pilihan bagi kaum beriman selain mengikuti manhaj beliau saw dalam seluruh aspek kehidupan; dalam beribadah, bermu'amalah, berakhlaq, berda'wah dan berpolitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menegakkan agama Allah di atas muka bumi ini tidak akan mungkin ditempuh dan dicapai kecuali dengan manhaj yang digariskan dan dijalani oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama para sahabatnya. Begitu juga dengan upaya melakukan perubahan menuju kehidupan yang diridhai Allah, ia tidak dapat diwujudkan kecuali dengan menempuh manhaj perubahan yang ditempuh Sang Rasul penutup itu bersama dengan para sahabatnya. Dan manhaj penegakan Islam dan perubahan menuju kehidupan yang diridhai Allah itu tersimpul pada dua kata; da'wah dan tarbiyah yang dibangun atas dasar ajaran Islam yang shahih dan murni. Inilah jalan pilihan bagi siapapun yang ingin melihat tegaknya Islam di muka bumi ini dan ingin menyaksikan terjadinya perubahan menuju kehidupan yang diridhai Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kami meyakini bahwa seluruh perhatian, usaha dan upaya keras seharusnya ditujukan untuk membangun gerakan yang berkonsentrasi pada jalan da'wah dan tarbiyah tersebut. Itu pula sebabnya, kami meyakini bahwa sudah seharusnya kaum muslimin tidak berpaling dan mencari jalan atau metode lain yang dianggap dapat menegakkan agama Allah di atas muka bumi. Sebab pastilah jalan atau metode itu tidak akan berhasil mengantarkan kita kepada tujuan yang dicita-citakan; menegakkan hukum Allah Ta'ala di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dalam perjalanan menempuh jalan da'wah dan tarbiyah itu, kita terkadang diperhadapkan pada sebuah pilihan yang sesungguhnya tidak sejalan dengan prinsip dan keyakinan yang haq. Namun kita terpaksa memilih demi mencegah atau mengurangi kemafsadatan yang lebih besar. Dalam istilah para ulama langkah ini dikenal dengan kaidah irtikab al-mafsadah as-shughra li daf'i al-mafsadah al-kubra -menempuh kemafsadatan yang kecil demi mencegah terjadinya kemafsadatan yang lebih besar- (semakna dengan kaidah no. 6 di atas). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti pemilu adalah salah satu contohnya. Kami berkeyakinan bahwa mengikuti pemilu dan masuk ke dalam parlemen bukanlah jalan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para sahabatnya serta generasi as-Salaf as-Shaleh dalam menegakkan dien ini dan melakukan perubahan menuju kehidupan yang diridhai Allah Ta'ala. Akan tetapi, saat ini khususnya kita di Indonesia tengah diperhadapkan pada sebuah realitas bahwa sebuah kekuatan besar secara terbuka maupun tersembunyi tengah merencanakan upaya besar untuk  menghalangi da'wah Islam dan mendatangkan kerugian bagi kaum muslimin. Dan salah satu celah yang mereka tempuh adalah melalui berbagai kebijakan dan keputusan yang bersifat politis. Dengan kata lain, perlu ada dari kaum muslimin yang dapat menghalangi berbagai upaya tersebut, yang tentu saja salah satunya -secara terpaksa- dengan menempuh jalur politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah pemilihan umum dengan mekanisme yang dikenal pada hari ini memang adalah masalah kontemporer yang belum dikenal di masa as-Salaf as-Shaleh. Itulah sebabnya, kita akan sulit menemukan nash yang sharih menjelaskan tentang hukum masalah ini. Oleh karena itu, para ulama Ahlussunnah yang menjelaskan masalah inipun mempunyai pandangan yang berbeda. Sebagian mengharamkan untuk ikut serta secara mutlak. Dan sebagian yang lain membolehkan dengan berbagai syarat dan batasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang mencermati dengan baik dan hati jernih tanpa didasari oleh sikap fanatik buta kepada ulama tertentu akan dapat menyimpulkan bahwa perbedaan para ulama Ahlussunnah dalam menyingkapi masalah ini sepenuhnya disebabkan perbedaan mereka dalam menimbang mashalahat dan mafsadat -suatu hal yang sering terjadi dalam masalah yang tidak didukung oleh nash yang sharih- yang ada dalam kasus ini. Walaupun beberapa ulama besar Ahlussunnah kontemporer (lih. Fatwa-fatwa terlampir) memandang bahwa ikut pemilu -bahkan menjadi anggota parlemen- dibolehkan demi mencegah kemafsadatan yang lebih besar. Dengan kata lain, kita terpaksa menempuh sebuah kemafsadatan yang lebih kecil (pemilu dan segala yang menjadi konsekwensinya) demi mencegah atau mengurangi kemafsadatan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan ini juga menunjukkan bahwa pemilu oleh para ulama digolongkan sebagai sebuah kemafsadatan yang terpaksa ditempuh. Karenanya ia tidak dapat diklaim sebagai metode pilihan untuk menegakkan dien ini, apalagi jika dianggap sebagai tujuan. Oleh karena itu, seyogyanya kaum muslimin tetap mengkonsentrasikan diri untuk melanjutkan gerakan da'wah dan tarbiyah yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah penjelasan ini, semoga kita semua senantiasa mendapatkan inayah dan taufiq dari Allah Azza wa Jalla. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar,  20 Dzulhijjah 1424 H/11 Februari 2004 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.n Ketua Dewan Syari'ah Wahdah Islamiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahrun Nida Muh. Amin, Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Ketua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperbaharui dengan tambahan dalil pada:&lt;br /&gt;Makassar, 18 Rabiul Awal 1430 H/15 Maret 2009 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Syariah Wahdah Islamiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HM. Said Abd. Shamad, Lc                                          H. Rahmat A. Rahman, Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                      K e t u a                                                                      Sekretaris          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN :&lt;br /&gt;FATWA-FATWA PARA ULAMA AHLUSSUNNAH KONTEMPORER&lt;br /&gt;SEPUTAR HUKUM IKUT SERTA DALAM PEMILIHAN UMUM&lt;br /&gt;DAN MENJADI ANGGOTA PARLEMEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Lajnah Daimah Tentang Sikap Seorang Muslim Terhadap Partai-partai Politik     (no. 6290)&lt;br /&gt;Soal : Sebagian orang mengaku dirinya muslim namun tenggelam dalam partai-partai politik, sementara di antara partai-partai itu ada yang mengikuti Rusia dan ada yang mengikuti Amerika. Dan partai-partai ini juga terbagi-bagi menjadi begitu banyak, seperti Partai Kemajuan dan Sosialis, Partai Kemerdekaan, Partai Orang-orang Merdeka –Partai Al Ummah-, Partai Asy Syabibah Al Istiqlaliyyah dan Partai Demokrasi…serta partai-partai lainnya yang saling mendekati satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah sikap Islam terhadap partai-partai tersebut, serta terhadap seorang muslim yang tenggelam dalam partai-partai itu ? Apakah keislamannya masih sah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban : Barang siapa yang memiliki pemahaman yang dalam tentang Islam, iman yang kuat, keislaman yang terbentengi, pandangan yang jauh ke depan, kemampuan retorika yang baik serta mampu memberikan pengaruh terhadap kebijakan partai hingga ia dapat mengarahkannya ke arah yang Islamy, maka ia boleh berbaur dengan partai-partai tersebut atau bergabung dengan partai yang paling dekat dengan al haq, semoga saja Allah memberikan manfa'at dan hidayah dengannya, sehingga ada yang mendapatkan hidayah untuk meninggalkan gelombang politik yang menyimpang menuju politik yang syar'i dan adil yang dapat menyatukan barisan ummat, menempuh jalan yang lurus dan benar. Akan tetapi jangan sampai ia justru mengikuti prinsip-prinsip mereka yang menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan adapun orang yang tidak memiliki iman dan pertahanan seperti itu serta dikhwatirkan ia akan terpengaruh bukan memberi pengaruh, maka hendaknya ia meninggalkan partai-partai tersebut demi melindunginya dari fitnah dan menjaga agamanya agar tidak tertimpa seperti yang telah menimpa mereka (para aktifis partai itu) dan mengalami penyimpangan dan kerusakan seperti mereka.&lt;br /&gt;Wabillahittaufiq, Washallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa 'Alihi wa Shahbihi wa Sallam.&lt;br /&gt;Ketua         : Abdul Aziz ibn Abdillah ibn Baz.&lt;br /&gt;Wakil Ketua     : Abdurrazzaq 'Afifi&lt;br /&gt;Anggota     : Abdullah ibn Ghudayyan&lt;br /&gt;Anggota     : Abdullah ibn Qu'ud&lt;br /&gt;( Lih. Fatawa Al Lajnah Ad Da'imah vol.12, hal.384 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah Tentang Keikutsertaan Dalam Pemilu&lt;br /&gt;Soal Kedua : Apakah hukum syar’i memberikan dukungan dan sokongan berkaitan dengan masalah yang telah disebutkan terdahulu (maksudnya: pemilihan umum) ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban : Pada saat ini kami tidak menasehati seorangpun dari saudara-saudara kami kaum muslimin untuk mencalonkan dirinya menjadi anggota parlemen yang tidak berhukum kepada hukum Allah, walaupun (negara) itu telah mencantumkan dalam undang-undangnya "agama negara adalah Islam" sebab teks semacam ini telah terbukti bahwa ia dicantumkan hanya untuk 'meninabobokkan' para anggota parlemen yang masih baik hatinya !! Hal itu disebabkan karena ia tidak mampu untuk mengubah satupun pasal-pasal yang terdapat dalam undang-undang itu yang menyelisihi Islam, sebagaimana telah terbukti di beberapa negara yang undang-undangnya memuat teks tersebut (bahwa "agama negara adalah Islam"-pen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi jika seiring dengan perjalanan waktu, ia kemudian turut pula menyetujui beberapa hukum yang menyelisihi Islam dengan alasan belum tiba/tepat waktunya untuk melakukan perubahan. Sebagaimana yang kita saksikan di beberapa negara, sang anggota parlemen mengubah gaya penampilannya yang Islami dengan mengikuti gaya barat agar dapat sejalan dengan (gaya) para anggota parlemen lainnya ! Maka ia masuk ke dalam parlemen dengan tujuan memperbaiki orang lain, malah justru ia telah merusak dirinya sendiri. (Seperti kata pepatah) hujan itu mulanya hanya setetes namun kemudian menjadi banjir ! Oleh sebab itu kami tidak menyarankan seorangpun untuk mencalonkan dirinya (sebagai anggota parlemen). Akan tetapi saya memandang tidak ada halangan bagi rakyat muslim bila dalam daftar calon anggota legsilatif itu terdapat orang-orang yang memusuhi Islam dan terdapat pula calon-calon anggota legislatif muslim dari partai yang memiliki manhaj yang berbeda-beda, maka -dalam kondisi seperti ini- kami menasehatkan agar setiap muslim memilih (calon anggota legislatif) dari kalangan Islam saja dan orang yang paling dekat dengan manhaj yang shahih sebagaimana telah dijelaskan (manhaj salaf-pen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengatakan ini -walaupun saya yakin bahwa pencalonan dan pemilihan ini tidak dapat merealisasikan tujuan yang diharapkan seperti telah dijelaskan terdahulu- sebagai suatu upaya untuk meminimalisir kejahatan atau sebagai suatu bentuk usaha untuk menolak kemafsadatan yang lebih besar dengan menempuh kemafsadatan yang lebih kecil sebagaimana yang dikatakan oleh para fuqaha'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal ketiga : Apakah hukum keluarnya kaum wanita untuk turut serta dalam pemilihan umum ?&lt;br /&gt;Jawaban : Dibolehkan bagi mereka untuk keluar dengan syarat yang telah diketahui bersama yang harus mereka penuhi, yaitu mengenakan jilbab yang syar'i dan tidak bercampur baur (ikhtilath) dengan kaum pria. Ini yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka hendaknya memilih orang yang paling dekat kepada manhaj ilmu yang shahih sebagai suatu upaya untuk menolak kemafsadatan yang lebih besar dengan menempuh kemafsadatan yang lebih kecil sebagaimana telah dijelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Fatwa ini adalah bagian dari faksimili yang dikirimkan oleh Syekh Muhammad Nashiruddin Al Albany kepada Partai FIS Aljazair, tertanggal 19 Jumadil Akhirah 1412 H. Dimuat di majalah Al Ashalah edisi 4 hal 15-22. Sedangkan terjemahan ini diambil dari kitab Madarik An Nazhar Fi As Siyasah hal. 340-341 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Syekh 'Abdul 'Aziz ibn Baz rahimahullah Tentang Dewan/Majelis Legislatif&lt;br /&gt;Soal : Banyak penuntut ilmu syar'i yang bertanya-tanya tentang hukum masuknya para du'at dan ulama ke dalam dewan legislatif dan parlemen, serta turut serta dalam pemilihan umum di negara yang tidak menjalankan syari'at Allah. Maka apakah batasan untuk hal ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab : Masuk ke dalam parlemen dan dewan legislatif adalah sangat berbahaya.  Masuk ke dalamnya sangatlah berbahaya. Akan tetapi barang siapa yang masuk ke dalamnya dengan landasan ilmu dan pijakan yang kuat, bertujuan menegakkan yang haq dan mengarahkan manusia kepada kebaikan serta menghambat kebatilan, tujuan utamanya bukan untuk kepentingan dunia atau ketamakan terhadap harta, ia masuk benar-benar hanya untuk menolong agama Allah, memperjuangkan yang haq dan mencegah kebatilan, dengan niat baik seperti ini, maka saya memandang tidak mengapa melakukan hal itu, bahkan seyogyanya dilakukan agar dewan dan majelis seperti itu tidak kosong dari kebaikan dan pendukung-pendukungnya. (Ini) bila ia masuk (dalam perlemen) dengan niat seperti ini dan ia mempunyai pijakan yang kuat agar ia dapat memperjuangkan dan meMpertahankan yang haq serta menyerukan untuk meninggalkan kebatilan. Mudah-mudahan Allah memberikan manfa'at dengannya hingga (dewan) itu dapat menerapkan syari'at (Allah).  Dengan niat dan maksud seperti ini disertai ilmu dan pijakan yang kuat, maka Allah Jalla wa 'Ala akan memberinya balasan atas usaha ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi jika ia masuk ke dalamnya dengan tujuan duniawi atau ketamakan untuk mendapatkan kedudukan, maka tidak diperbolehkan. Sebab ia harus masuk dengan niat mengharapkan Wajah Allah dan negeri Akhirat, memperjuangkan dan menjelaskan yang haq dengan dalil-dalilnya agar semoga saja dewan dan majelis itu mau kembali dan bertaubat kepada Allah.&lt;br /&gt;(Fatwa ini dimuat dalam majalah Al Ishlah edisi 242-27 Dzulhijjah 1413 H/23 Juni 1993 M. Adapun terjemahan ini dinukil dari buku Ash Shulhu Khair terbitan Jama'ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiyah di Sudan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Syekh Muhammad Ibn Shaleih Al 'Utsaimin rahimahullah Tentang Hukum Masuk Ke Dalam Parlemen&lt;br /&gt;Soal : Fadhilah Asy Syekh -semoga Allah senantiasa menjaga Anda-, tentang masuk ke dalam majelis legislatif padahal negara itu tidak menerapkan syari'at Allah dengan sempurna, bagaimana pandangan Anda tentang masalah ini -semoga Allah senantiasa menjaga Anda- ?&lt;br /&gt;Jawaban : Kami telah pernah menjawab pertanyaan serupa beberapa waktu lalu, yaitu bahwa sudah seharusnya (ada yang) masuk dan turut serta dalam pemerintahan. Dan hendaknya seseorang dengan masuknya ia ke dalam pemerintahan meniatkannya untuk melakukan perbaikan bukan untuk menyetujui setiap keputusan yang dikeluarkan. Dan dalam kondisi seperti ini, bila ia menemukan sesuatu yang menyelisihi syari'at maka ia berusaha menolak/membantahnya. Walaupun pada kali pertama dia  tidak banyak orang yang mengikuti dan mendukungnya, maka (ia mencoba terus) untuk kedua kalinya, atau (bila tidak berhasil pada) bulan pertama, (maka ia mencoba lagi) pada kedua dan ketiga, atau (bila tidak berhasil) pada tahun pertama, (maka ia mencoba lagi) pada tahun kedua…maka di masa yang akan datang akan ada pengaruh yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika (pemerintahan) itu dibiarkan lalu kesempatan itu diberikan kepada orang-orang yang jauh dari (cita-cita) penerapan syari'at maka ini adalah sebuah kelalaian yang besar yang tidak seharusnya seseorang itu memiliki/melakukannya.&lt;br /&gt;(Fatwa ini dimuat dalam majalah Al Furqan edisi 42-Rabi' Ats Tsani 1414 H/Oktober 1993 M. Adapun terjemahan ini diambil dari buku Ash Shulhu Khair terbitan Jama'ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiyah di Sudan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Syekh Shalih Al Fauzan hafizhahullah Seputar Menjadi Anggota Parlemen&lt;br /&gt;Soal : Bagaimana hukum menjadi anggota parlemen ?&lt;br /&gt;Jawaban : Apa yang akan terealisasi dengan masuknya ia menjadi anggota parlemen ? Kemashlahatan bagi kaum muslimin ? Bila hal itu berdampak bagi kemashlahatan kaum muslimin dan mengupayakan perubahan terhadap parlemen itu menuju Islam, maka ini adalah perkara yang baik. Setidak-tidaknya mengurangi bahaya/kemudharatan bagi kaum muslimin dan mendapatkan sebagian kemashlahatan jika tidak memungkinkan meraih semua kemashlahatan, walaupun hanya sebagian saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal : Tapi hal itu terkadang mengharuskan seseorang untuk mengorbankan beberapa hal yang ia yakini ?&lt;br /&gt;Jawaban : Mengorbankan maksudnya melakukan tindakan kufur kepada Allah atau apa ?&lt;br /&gt;(Yang hadir menjawab ) : Mengakuinya.&lt;br /&gt;Jawaban : Tidak, pengakuan ini tidak boleh dilakukan. Yakni ia meninggalkan agamanya dengan alasan untuk berda'wah ke jalan Allah, ini tidak benar. Bila mereka tidak mempersyaratkan ia harus mengakui hal-hal (yang kufur) itu dan ia tetap berada di atas keislamannya, aqidah dan diennya, lalu dengan masuknya ia (dalam parlemen) terdapat kemashlahatan bagi kaum muslimin, dan bila mereka tidak mau menerimanya, ia pun meninggalkan mereka; apa yang akan ia lakukan ? Memaksa mereka ? Tidak mungkin memaksa mereka. Yusuf alaihissalam masuk ke dalam jajaran kementrian seorang raja di zamannya, lalu apa yang terjadi ? Anda sekalian tahu atau tidak  apa yang terjadi pada Nabi Yusuf  alaihissalam ?  Apa yang dilakukan Yusuf ketika beliau masuk ? Ketika sang raja mengatakan bahwa engkau hari ini telah menjadi orang  yang terpercaya dan memiliki posisi kuat dalam pandangan kami, maka beliau mengatakan : "Angkatlah aku sebagai bendaharawan negara, sebab saya adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan." Lalu kemudian beliaupun masuk (ke pemerintahan) hingga akhirnya kekuasaanpun berada di tangan Yusuf alaihissalam. Beliau kemudian menjadi raja Mesir. Salah seorang nabi Allah menjadi raja Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bila masuknya ia akan mendatangkan hasil yang baik maka ia hendaknya masuk. Namun jika hanya sekedar untuk menerima dan tunduk kepada apa yang mereka inginkan, dan tidak ada kemashlahatan bagi kaum muslimin dengan masuknya ia maka ia tidak dibolehkan untuk menjadi anggota parlemen. Para ulama mengatakan: mendatangkan maslahat atau menyempurnakannya, artinya bila maslahat itu tidak dapat diraih seluruhnya, maka tidak apa-apa walaupun hanya sebagian yang dapat dicapai, dengan syarat tidak menyebabkan terjadinya kemafsadatan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Para ulama) mengatakan bahwa Islam datang untuk meraih kemashlahatan dan menyempurnakanya, serta menolak kemafsadatan dan menguranginya. Artinya bila kemafsadatan itu tidak dapat ditolak seluruhnya, maka setidaknya ia berkurang dan lebih ringan. (Dengan kata lain) menempuh kemudharatan yang paling ringan di antara dua kemudharatan demi mencegah terjadinya kemudharatan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua bergantung pada maksud dan niatnya serta hasil yang akan dicapai. Dan bila masuknya ia sebagai anggota parlemen hanya karena ketamakan pada kekuasaan dan harta, lalu kemudian mendiamkan (kebatilan) dan menyetujui (kebatilan) yang mereka  kerjakan maka ini tidak diperbolehkan. Dan bila masuknya mereka demi kemashlahatan kaum muslmin dan da'wah ke jalan Allah sehingga semuanya dapat berpangkal pada kebaikan kaum muslimin maka ini adalah perkara yang harus dilakukan, tentu saja bila tidak mengakibatkan ia harus mengakui kekufuran. Sebab bila demikian maka ini tidak dibolehkan. Tidak dibenarkan mengakui kekufuran walaupun dengan tujuan yang mulia. Seseorang tidak boleh menjadi kafir lalu mengatakan bahwa tujuan saya adalah mulia, saya ingin berda'wah ke jalan Allah; ini tidak diperbolehkan.&lt;br /&gt;(Fatwa ini berasal dari sebuah kaset yang direkam dari Syekh, lalu dimuat dalam buku Ash Shulhu Khair terbitan Jama'ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiyah di Sudan).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terakhir Diperbaharui ( Senin, 23 Maret 2009 )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-2236463788335384919?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/2236463788335384919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/penjelasan-dewan-syariah-wahdah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/2236463788335384919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/2236463788335384919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/penjelasan-dewan-syariah-wahdah.html' title='PENJELASAN DEWAN SYARI&apos;AH WAHDAH ISLAMIYAH TENTANG PRMILIHAN UMUM'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-5202947879272694716</id><published>2009-03-22T23:46:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T23:49:28.117-07:00</updated><title type='text'>MERAIH CINTA SUCI DALAM INDAHNYA PERNIKAHAN</title><content type='html'>Meraih Cinta Suci dalam Indahnya Pernikahan”   PDF   Cetak   E-mail&lt;br /&gt;Ditulis oleh Administrator  &lt;br /&gt;Rabu, 05 Desember 2007&lt;br /&gt;“Meraih Cinta Suci dalam Indahnya Pernikahan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Pernikahan dan Pembinaan Keluarga Sakinah (LP2KS) Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI), Insya Allah akan mempersembahkan Daurah Pernikahan Akbar dengan mengambil tema: “Meraih Cinta Suci dalam Indahnya Pernikahan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daurah ini, insya Allah akan dilaksanakan pada hari Sabtu-Ahad, 8-9 Desember 2007 bertempat di Gedung Lanto Daeng Pasewang (Samping Gedung Pasca UNM). Ada 7 Materi yang akan dipaparkan dalam daurah kali ini, yakni (1) Mempersiapkan Pernikahan Suci oleh Ust. Ahmad Hanafi, Lc, (2) Peranan Pernikahan dalam Perjuangan oleh Ust. Jahada Mangka, Lc, (3) Melirik Rumah Tangga Rasulullah oleh Ust.Saiful Yusuf,Lc (4) Solusi Sehat Pra/Pasca Nikah oleh Dr.Yusuf Bahmit,SM, (5) Hal-hal yang Terlarang Sebelum Pernikahan oleh Ust. Muh. Yusran Ansar, Lc, (6) Mengatasi Kendala-Kendala Menuju Pernikahan oleh Ust. Irwan Fitri, Lc, (7) Sosialisasi Sistem Pernikahan LP2KS DPP WI oleh Ust. Syamsuddin Kurru, S.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan peserta: Membayar kontribusi, Rp. 20.000 (Mahasiswa),Rp. 25.000 (Umum), Tertarbiyah (Binaan/Kader WI) dan mendaftarkan diri paling lambat hari Jum’at, 6 Desember 2007 Pukul 12.00. CP: Suardi Dahlan (Sekretaris LP2KS) 0411 5749841. Fasilitas :Makalah, Snack, Lunch.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-5202947879272694716?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/5202947879272694716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/meraih-cinta-suci-dalam-indahnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/5202947879272694716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/5202947879272694716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/meraih-cinta-suci-dalam-indahnya.html' title='MERAIH CINTA SUCI DALAM INDAHNYA PERNIKAHAN'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-5606066133652151913</id><published>2009-03-22T23:42:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T23:45:15.918-07:00</updated><title type='text'>KEWAJIBAN MUSLIM TERHADAP WAKTU</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;Kewajiban Muslim                          Terhadap Waktu &lt;/td&gt;                       &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;&lt;a title="PDF" href="javascript:void%20window.open('http://www.wahdah.or.id/wahdah/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=993',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');"&gt;&lt;img alt="PDF" src="file:///D:/kewajiban%20muslim%20terhadap%20waktu_files/index_files/pdf_button.png" name="image" align="middle" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;/td&gt;                       &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;&lt;a title="Cetak" href="javascript:void%20window.open('http://www.wahdah.or.id/wahdah/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=993&amp;amp;Itemid=60&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');"&gt;&lt;img alt="Cetak" src="file:///D:/kewajiban%20muslim%20terhadap%20waktu_files/index_files/printButton.png" name="image" align="middle" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;/td&gt;                       &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;&lt;a title="E-mail" href="javascript:void%20window.open('http://www.wahdah.or.id/wahdah/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=emailform&amp;amp;id=993',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no');"&gt;&lt;img alt="E-mail" src="file:///D:/kewajiban%20muslim%20terhadap%20waktu_files/index_files/emailButton.png" name="image" align="middle" border="0" /&gt;                    &lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;                                                             &lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;                       &lt;td colspan="2" valign="top" width="70%" align="left"&gt;&lt;span class="small"&gt;Ditulis oleh Administrator                          &lt;/span&gt;   &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;                     &lt;tr&gt;                       &lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;Sabtu, 05                          Januari 2008 &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;                     &lt;tr&gt;                       &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;                         &lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;Kewajiban                          Muslim Terhadap Waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Al Balagh Edisi                          14/Dzulhijjah 1428 H)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di antara karakter waktu adalah                          ia akan terus berlalu. Ia tidak pernah menunggu                          siapapun. Rela atau tidak, ia terus berjalan tidak                          pernah mau menerima alasan ketelatan kita. &lt;/div&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;Karena itu, mereka yang sukses dunia                          akhirat adalah mereka yang mampu berpacu bersama waktu                          erenda hari-hari dengan amal shalih. Pembaca budiman,                          al-Balagh edisi kali ini mengajak kita semua menata                          waktu kita. Selamat menyimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian                          pentingnya waktu sehingga dikatakan itulah kehidupan                          manusia yang hakiki. Maka, bagi manusia muslim ada                          kewajiban terhadap waktu yang selalu ia harus                          perhatikan. Seorang muslimtidak hanya skedar tahu dan                          mengerti harus mendarah daging akan pentingnya waktu itu                          lalu mengisinya dengan penuh kesungguhan.                         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa kewajiban seorang muslim                          terhadap waktu:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,                          Menjaga Manfaat Waktu.&lt;br /&gt;Kewajiban utama seorang muslim                          adalah menjaganya seperti ia menjaga hartanya bahkan                          lebih dari itu. Selanjutnya ia harus mengambil manfaat                          dari waktunya untuk kepentingan dunia dan akhiratnya,                          untuk diri dan ummatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para salaf adalah                          manusia yang paling mengerti tentang pentingnya waktu.                          Hasan al-Bashri pernah berkata, “Aku pernah bertemu                          dengan kaum yang perhatiannya terhadap waktu lebih besar                          daripada perhatiannya terhadap harta bendanya”. Karena                          itu para ulama selalu menjaga kelansungan waktunya terus                          menerus. Mereka takut waktu mereka berlalu tanpa faidah                          dan kerja keras. Umar bin Abdul Aziz pernah                          berkata,”Sesungguhnya malam dan siang itu berbuat atas                          dirimu, maka beramallah pada keduanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara                          tanda kurangnya kualitas seseorang adalah menyia-nyiakan                          waktu. Para ulama’ kita mengatakan,”Waktu adalah pedang,                          bila kamu tidak memakainya dengan baik dan benar ia kan                          menebasmu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, mereka selalu                          berusaha maju ke arah yang lebih baik, bagi mereka hari                          harus lebih baik dari hari kemarin dan esok harus lebih                          baik dari hari ini. Berkata salahseorang salaf tentang                          ini, “siapa yang hari ini seperti keadaannya kemarin ia                          adalah orang tertipu dan barang siapa yang lebih buruk                          dari kemarin  ia adalah orang tercela.                         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, Mengisi                          Kekosongan&lt;br /&gt;Waktu luang adalah nikmat yang banyak                          dilupakan. Kebanyakan orang mengumpamakan waktu luang                          seperti binatang berbahaya yang harus segera dibunuh                          dengan senjata kesia-siaan. Rasulullah bersabda, “ Dua                          nikmat dari Allah yang kebanyakan manusia tertipu; yaitu                          nikmat sehat dan nikmat waktu luang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu                          luang yang dimaksud dalam hadits di atas adalah saat                          kosong atau selesai dari berbagai aktifitas duniawi dan                          bisanya kebanyakan orang “membunuhnya” dengan                          kesia-siaan. Contoh sederhana adalah betapa banyak orang                          yang meghabiskan waktu luangnya dengan menghabiskannya                          di depan televisi atau orang yang ngobrol dengan obrolan                          yang tidak ada ujung pangkalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mannawi                          memberi perumpamaan yang sangat indah tentang hal ini.                          Beliau mengatakan,”pedagang adalah orang yang                          bertanggung jawab terhadap barang dagangannya, sedangkan                          sehat dan peluang adalah modal utamanya yang merupakan                          penyebab keberuntugannya. Maka, siapa yang mengisi                          kekosongannya dengan amal kebaikan maka ia akan                          beruntung dan siapa yang mengisinya dengan mengikuti                          kemauan syaithan maka ia telah kehilangan                          modal”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits shahih disebutkan, Rasulullah                          bersabda, “Pergunakan lima perkara sebelum datang lima                          perkara...waktu luangmu sebelum datang waktu                          sibukmu.”&lt;br /&gt;Waktu luang pasti akan terisi, apakah                          dengan hal-hal yang bermanfaat atau hal-hal yang                          sia-sia. Maka berbahagialah mereka yang mengisi waktu                          laungnya dengam hal-hal yang bermanfaat dan sungguh                          celaka mereka yang mengisinya dengan kesia-siaan.                          Salafusshalih berkata, “Perhatikan jiwamu, jika Anda                          tidak menyibukkannya dengan ketaatan, maka dialah yang                          akan menyibukkanmu dengan kemaksiatan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para                          salaf sangat benci kepada mereka yang menganggur, tidak                          mau bekerja beraktifitas baik yang memberi manfaat                          duniwi maupun ukhrawi. Salah satu sumber kejahatan                          adalah kelalaian. Sedangkan kelalaian ini salalh satu                          cabangnya adalah bangkitnya syahwat yang tidak                          terkendali. Bukankah keserongan Zulaikha pada Yusuf                          adalah karena didera oleh kesepian, tidak                          beraktifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,                          Berlomba-lomba Dalam Kebaikan.&lt;br /&gt;Orang beriman mengerti                          betul pentingnya waktu. Karena itu, ia tidak akan                          menunda kewajibannya untuk dikerjakan hari esok. Seorang                          penyair pernah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak akan kutunda                          pekerjaanku sampai esok. Sebab si pemalas adalah putra                          kata ‘besok’ ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'Alaihi                          Wasallam menganjurkan ummatnya membaca doa dimana beliau                          sendiri selalu membacanya:&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allaahumma inii                          a’udzu bika minal hammi walhuzni, wa a’uudzu bika minal                          ‘ajzi walkasal”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, ya Allah aku                          berlindung kepadaMu dari sedih dan duka cita, dan aku                          berlindung kpadamu dari lemah dan malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah                          ta’ala menerangkan kekeliruan ahlul kitab dan terhadap                          apa-apa yang diturunkan kepada mereka, Dia berfirman,                          “Kalau Allah menghendaki maka Ia akan menjadikan kalian                          ummat yang satu. Akan tetapi Ia menguji kalian dengan                          apa-apa yang diberikan pada kalian. Maka                          berlomba-lombalah kalaian mengerjakan kebaikan.”(Qs.                          Al-Maaidah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Allah menyebutkan fasilitas                          yang diperoleh penduduk surga dan kenikmatan-kenikmatan                          yang mereka peroleh, Allah memerintahkan orang-orang                          beriman untuk berlomba-lomba meraihnya. Allah                          mengatakan, “Tentang hal itu, hendaknya mereka saling                          berlomba-lomba” (Qs. Al-Muthaffifin: 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah                          ta’ala memuji sebaian RasulNya karena mereka tidak                          menunda-numda waktunya untuk mengerjakan kebaikan. Allah                          berfirman tentang mereka, “Sesungguhnya mereka selalu                          bersegera dalam mengerjakan kebaikan, dan mereka selalu                          berdoa pada kami dengan harap-harap cemas. Dan mereka                          adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami”. (Qs.                          Al-Anbiyaa’ : 90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menganjurkan                          ummatnya untuk bersegera menyelesaikan pekerjaannya                          sebelum datang rintangan-rintangan yang menghalanginya,                          beliau bersabda, “Apakah kalian menunggu (untuk beramal)                          sampai datang kekayaan yang menyombongkan atau                          kemiskinan yang melalaikan, atau penyakit yang                          membinasakan, atau ketuaan yang melemahkan atau dajjal                          yang menipu...”(HR.                          Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,                          Belajar Dari Perjalan Hari-hari&lt;br /&gt;Wajib baru setiap                          Muslim untuk mengambil pelajaran dari hari-hari yang                          telah lalu. Pada perjalanan siang dan malam selalu ada                          sesuatu yang baru. Keduanya ‘menjadikan’  yang                          kecil jadi muda, yang muda jadi tua, yang tua binasa.                          Bahkan terkadang tidak melaui tahapan itu, betapa banyak                          manusia diusia yang masih belia sudah dijempaut oleh                          kematian. Maka, ini adalah pelajaran yang sangat                          berharga. Perjalan waktu adalah saksi bisu tentang                          proses terjadinya alam semesta ini dari satu tahapan                          ketahapan yang lain, dari satu bentuk kepada bentuk yang                          lain. Maka, pernahkan Anda melihat pohon besar yang                          tinggi menjulang? Setelah kita merenung taulah kita                          bahwa pohon besar itu pada awalnya hanyalah sebuah tunas                          kecil yang lemah dan rapuh tapi dalam rentang watu yang                          panjang Allah menumbuhkannya. Begitu pula kejadian                          manusia. Mereka sebelumnya tidak ada sama sekali. Tapi                          Allah berkehendak mengadakan sesuatu yang sebelumnya                          sama sekal tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman,yang                          artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dia menggilirkan siang dan malam.                          Sungguh pada yang yang demikian itu ada ibrah bagi                          orang-orang yang berpikir”(QS. An-Nuur:                          44)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pembaca budiman, inilah beberapa                          kewajiban kita terhadap waktu. Waktu yang melingkupi                          hidup kita ini adalah salah satu indikator kesuksesan                          dan kegagalan kita di dunia dan akhirat. Namun sayang,                          banyak manusia yang gagal karena salah dalam menyikapi                          perjalanan waktunya. Wallaahul                          musta’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bencana-bencana                          Waktu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.    Lalai.&lt;br /&gt;Ini                          adal;ah penyakit pikiran. Kejadian peristiwa selalu                          dilihat dari lahirnya saja. Kurang memperhatikan hakikat                          dibalik kejadian dan sebab utama kejadian. Contoh                          sederhana, bencana alam yang banyak terjadi selalu                          ditinjau dari aspek lahiriyah belaka, tidak pernah                          dilihat dari sisi lain, yaitu hukum kausalitas dalam                          ajaran Islam bahwa siapa saja yang melenceng dari                          syari’at Allah pasti ada resikonya yaitu musibah yang                          mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Menunda                          Pekerjaan&lt;br /&gt;Menunda pekerjaan adalah di antara                          musibah-musibah waktu. “Nanti”, “besok”, “sebentar”,                          “kapan-kapan” adalah di antara senjata pamungkas para                          penunda waktu.&lt;br /&gt;Pernah ada seseoran yang meminta                          nasehat seorang lali-laki shalih dari Bani Abdil Qais,                          Ia hanya berkata dengan singkat, “waspadalah dari                          berkata “nanti”. Ada juga yang mengatakan bahwa kata                          “nanti” adalah salah satu dari tentara                          iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Mencerca Zaman&lt;br /&gt;Di antara penyakit                          orang lemah adalah senang mencerca zaman. Ini sebenarnya                          prilaku orang-orang malas. Ketidakberdayaannya dalam                          melawan kemalasan dibungkus dengan cercaan kepada zaman                          di mana ia berada. Padahal Rasulullah melarang kita                          mencela zaman, karena zaman dan kejadian yang terjadi di                          dalamnya itu adalah ketentuan dari                          Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-5606066133652151913?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/5606066133652151913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/kewajiban-muslim-terhadap-waktu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/5606066133652151913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/5606066133652151913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/kewajiban-muslim-terhadap-waktu.html' title='KEWAJIBAN MUSLIM TERHADAP WAKTU'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-8328748460544930058</id><published>2009-03-22T23:26:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T23:42:06.943-07:00</updated><title type='text'>ISTIADZAH</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;Istiadzah &lt;/td&gt;                       &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;&lt;a title="PDF" href="javascript:void%20window.open('http://www.wahdah.or.id/wahdah/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=951',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');"&gt;&lt;img alt="PDF" src="file:///D:/ISTIADZAH_files/index_files/pdf_button.png" name="image" align="middle" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;/td&gt;                       &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;&lt;a title="Cetak" href="javascript:void%20window.open('http://www.wahdah.or.id/wahdah/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=951&amp;amp;Itemid=54&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');"&gt;&lt;img alt="Cetak" src="file:///D:/ISTIADZAH_files/index_files/printButton.png" name="image" align="middle" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;/td&gt;                       &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;&lt;a title="E-mail" href="javascript:void%20window.open('http://www.wahdah.or.id/wahdah/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=emailform&amp;amp;id=951',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no');"&gt;&lt;img alt="E-mail" src="file:///D:/ISTIADZAH_files/index_files/emailButton.png" name="image" align="middle" border="0" /&gt;                    &lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;                                                             &lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;                       &lt;td colspan="2" valign="top" width="70%" align="left"&gt;&lt;span class="small"&gt;Ditulis oleh Administrator                          &lt;/span&gt;   &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;                     &lt;tr&gt;                       &lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;Rabu, 07                          November 2007 &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;                     &lt;tr&gt;                       &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;                         &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;strong&gt;Istiadzah                          &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;Istiadzah merupakan bentuk ÅÓÊÝÚÇáÉ                          atau masdar dari kata ÅÓÊÚÇÐÉ - íÓÊÚíÐ yang berasal dari                          kata ÇáÚæÐ yang bermakna memohon perlindungan dari                          sesuatu yang tidak disukai. Orang yang beristiadzah itu                          senantiasa menggantungkan harapannya kepada yang                          ditujunya dalam beristiadzah.&lt;/p&gt;                         &lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Keutamaan beristiadzah kepada                          Allah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;                        &lt;div align="justify"&gt;Istiadzah merupakan ibadah yang                          sangat diperintahkan oleh Allah ÓÈÍÇäå æÊÚá yang mana                          hal tersebut dituntut untuk ikhlas semata-mata hanya                          kepada-Nya. Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman                          :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Þõáú ÃóÚõæÐõ                          ÈöÑóÈøö ÇáúÝóáóÞö(1)ãöäú ÔóÑøö ãóÇ ÎóáóÞó(2)æóãöäú ÔóÑøö                          ÛóÇÓöÞò ÅöÐóÇ æóÞóÈó(3)æóãöäú ÔóÑøö ÇáäøóÝøóÇËóÇÊö Ýöí                          ÇáúÚõÞóÏö(4æóãöäú ÔóÑøö ÍóÇÓöÏò ÅöÐóÇ                          ÍóÓóÏó(5&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah (wahai Muhammad); "Aku                          berlindung kepada (Allah) Tuhan yang menciptakan                          sekalian makhluk,1"Dari bencana makhluk-makhluk yang Ia                          ciptakan;2"Dan dari bahaya gelap apabila ia masuk;3"Dan                          dari kejahatan makhluk-makhluk yang menghembus-hembus                          pada simpulan-simpulan (dan ikatan-ikatan);4"Dan dari                          kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan                          dengkinya".5 (QS. Al Falaq:1-5)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;p&gt;Dan firman Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Þõáú ÃóÚõæÐõ                          ÈöÑóÈøö ÇáäøóÇÓö(1)ãóáößö ÇáäøóÇÓö(2)Åöáóåö                          ÇáäøóÇÓö(3)ãöäú ÔóÑøö ÇáúæóÓúæóÇÓö ÇáúÎóäøóÇÓö(4)ÇáøóÐöí                          íõæóÓúæöÓõ Ýöí ÕõÏõæÑö ÇáäøóÇÓö(5)ãöäú ÇáúÌöäøóÉö                          æóÇáäøóÇÓö(6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;Katakanlah (wahai Muhammad): "Aku                          berlindung kepada (Allah) Pemelihara sekalian                          manusia.1"Yang Menguasai sekalian manusia,2"Tuhan yang                          berhak disembah oleh sekalian manusia,3"Dari kejahatan                          pembisik penghasut yang timbul tenggelam, -4"Yang                          melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati                          manusia, -5"(Iaitu pembisik dan penghasut) dari kalangan                          jin dan manusia".(QS. An Nas:1-6)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;p&gt;Adapun tentang keistimewaan dan keutamaan                          beristia'dzah kapada Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì antara lain                          sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Merupakan starategi yang paling                          hebat dalam menghadapi musuh yang paling keras yaitu                          syaithan. Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman :&lt;/p&gt;                         &lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ÎõÐú ÇáúÚóÝúæó                          æóÃúãõÑú ÈöÇáúÚõÑúÝö æóÃóÚúÑöÖú Úóäú                          ÇáúÌóÇåöáöíäó(199)æóÅöãøóÇ íóäÒóÛóäøóßó ãöäú                          ÇáÔøóíúØóÇäö äóÒúÛñ ÝóÇÓúÊóÚöÐú ÈöÇááøóåö Åöäøóåõ                          ÓóãöíÚñ Úóáöíãñ(200&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berkata Al Hafidz Ibnu katsir                          dalam kaitannya dengan ketiga ayat diatas bahwa                          "Sesungguhnya Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì memerintahkan untuk                          mencegah gangguan syaithan yang berbentuk manusia dengan                          menampakkan hal-hal yang baik kepadanya dan                          memperlakukannya secara baik agar tabiat baiknya dapat                          kembali menahannya dari sifat-sifat jahat. Dan                          memerintahkan untuk beristiadzah kepada-Nya dari                          syaithan yang berbentuk jin karena syaithan tersebut                          tidak dapat disogok dan tidak dapat berubah tabiatnya                          dengan perlakuan yang baik, sebab tabiatnya memang                          adalah tabiat yang jelek sehingga tidak ada yang dapat                          mencegah dari gangguannya yang menciptakannya.&lt;/div&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;2. Dapat merendam kemarahan                          seseorang yang sedang marah Hal ini berdasarkan hadits                          yang diriwayatkan oleh Sulaiman bin Shar ÑÖí Çááå Úäå,                          beliau berkata bahwasanya ada dua orang yang bertengakar                          di hadapan nabi Õáì Çááå Úáíå æÓáã (ketika) kami sedang                          duduk-duduk di sisinya. Salah seorang diantaranya                          memaki-maki lawannya dalam keadaan marah sampai merah                          mukanya. Maka nabi Õáì Çááå Úáíå æÓáã bersabda "Sungguh                          aku mengetahui suatu kalimat yang apabila dia membacanya                          niscaya sikapnya itu segera hilang (yaitu) kalau dia                          membaca “Aku berlindung kepada Allah dari syaithan yang                          terkutuk" lalu para shahabat pun berkata kepadanya                          apakah engkau tidak mendengarkan sabda Rasulullah Õáì                          Çááå Úáíå æÓáã  ? dia pun menjawab :"Sungguh saya                          bukanlah orang gila" (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;p&gt;3. Diperintahkan untuk dibaca sebelum membaca Al                          Qur'an Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman :&lt;/p&gt;                         &lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;ÝóÅöÐóÇ ÞóÑóÃúÊó                          ÇáúÞõÑúÂäó ÝóÇÓúÊóÚöÐú ÈöÇááåö ãöäú ÇáÔøóÜíúØóÇäö                          ÇáÑøóÌöíãö ÇáäÍá:98&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pembagian istiadzah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;Secara umum istiadzah dapat dibagi                          kedalam empat bagian : &lt;/div&gt;                         &lt;p&gt;1. Istiadzah (memohon perlindungan) kepada Allah                          ÓÈÍÇäå æÊÚáì&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;Istiadzah ini merupakan ibadah yang                          sangat agung yang harus diikhlaskan hanya kepada Allah                          ÓÈÍÇäå æÊÚáì, karena hal ini merupakan bentuk                          pengimplikasian seorang hamba terhadap kebutuhan dan                          ketergantungan kepada–Nya dalam mencari dan memohon                          perlindungan dari segala bahaya dan gangguan yang                          dihadapi. Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman :&lt;/div&gt;                         &lt;p align="right"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;íóÇ ÇÈúäó                          ÚóÇÈöÓò ÃóáÇó ÃóÏõáøõßó Ãóæú ÞóÇáó ÃóáÇó ÃõÎúÈöÑõßó                          ÈöÃóÝúÖóáö ãóÇ íóÜÊóÚóæøóÐõ Èöåö ÇáúãõÊóÚóæøöÐõæäó                           ÞóÇáó :" Èóáóì íóÇ ÑóÓõæáó Çááåö "ÞóÇáó  Þõáú                          ÃóÚõæÐõ ÈöÑóÈøö ÇáúÝóáóÞö æó Þõáú ÃóÚõæÐõ ÈöÑóÈøö                          ÇáäøóÇÓö åóÇÊóíúäö ÇáÓøõæÑóÊóíúäö  ÑæÇå                          ÇáäÓÇÆì &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan dari                          shahabat Ibnu Abbas al Juhany. Sesungguhnya Nabi Õáì                          Çááå Úáíå æÓáã   pernah berkata kepadanya :                          "Wahai Ibnu Abbas inginkah aku tunjukkan atau inginkah                          aku kabarkan kepadamu suatu perlindungan yang paling                          baik bagi orang yang memohon atau mencari                          perlindungan-perlindungan” jawab beliau “Tentu wahai                          Rasulullah”, lalu beliau bersabda : “Katakanlah aku                          berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh" dan                          katakanlah “Aku berlindung kepda Rabb (yang menciptakan                          dan memelihara) manusia” kedua surat ini” (HR. An                          Nasaa’i)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;p&gt;2. Istiadzah dengan salah satu sifat Allah ÓÈÍÇäå                          æÊÚáì&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istiadzah dengan salah satu sifat Allah                          ÓÈÍÇäå æÊÚáì seperti sifat Kalam-Nya, Keagungan-Nya,                          Keperkasaan-Nya dan sebagainya, hukumnya adalah boleh                          bahkan Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáøã sering                          melakukannya dalam berdo’a, seperti : &lt;/p&gt;                         &lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ÃóÚõæÐõ ÈößóáöãóÇÊö                          Çááåö ÇáÊøóÇãøóÇÊö ãöäú ÔóÑøö ãóÇ ÎóáóÞó ÑæÇå                          ãÓáã &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;p&gt;“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang                          sempurna dari kejahatan apa yang diciptakan-Nya” (HR.                          Muslim)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;“Aku berlindung dengan keagungan-Mu,                          jangan sampai aku diserang dari bawahku” (HR. An                          Nasaa'i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berlindung dengan kemuliaan dan                          kekuasaan Allah dari keburukan yang kudapati dan                          kukhawatirkan” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu                          Majah)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3. Isti'adzah kepada orang yang                          telah mati atau orang yang masih hidup namun dia tidak                          hadir atau mendengarkan permohonannya atau tidak mampu                          untuk memberikan perlindungan. Isti'adzah ini tidak                          boleh karena hal itu merupakan syirik besar, sebab                          seseorang tidak mungkin melakukannya kecuali atas dasar                          i’tiqad (keyakinan) yang salah bahwa orang tersebut                          dapat mengetahui sesuatu yang ghaib atau mempunyai                          kekuatan ghaib dalam mengatur alam semesta ini. Allah                          ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman :&lt;/div&gt;                         &lt;p align="right"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;æóÃóäøóåõ                          ßóÇäó ÑöÌóÇáñ ãöäú ÇúáÅöäÓö íóÚõæÐõæäó ÈöÑöÌóÇáò ãöäú                          ÇáúÌöäøö ÝóÒóÇÏõæåõãú ÑóåóÞðÇ ÇáÌä                          :6 &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;Berkata Al Hafidz Ibnu Katsir dalam                          menafsirkan ayat tersebut bahwa : “Kami (syaithan)                          memandang bahwa kami lebih memiliki keutamaan dibanding                          dengan manusia karena mereka ternyata meminta                          perlindungan dari kami tatkala mereka mendatangi sebuah                          lembah atau gurun sahara dan sebagainya. Sebagaimana                          kebiasaan bangsa arab di zaman jahiliyah meminta                          perlindungan dari jin penjaga sebuah tempat….maka                          tatkala jin melihat banyak orang yang meminta                          perlindungan kepada karena mereka ketakutan jin tersebut                          semakin menakut-nakuti mereka”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;4. Isti'adzah kepada orang yang                          dapat memberikan perlindungan Yaitu orang yang masih                          hidup, mendengar pengaduan orang yang beristi'adzah                          kepadanya serta dapat memberikan perlindungan atau                          beristi'adzah berlindungan kepada tempat yang memang                          dapat dijadikan sebagai tempat perlindungan. Isti'adzah                          jenis ini juga dibolehkan di dalam Islam. Rasulullah Õáì                          Çááå Úáíå æÓáã bersabda tentang fitnah-fitnah yang akan                          terjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        &lt;div align="right"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ãóäú                          ÊóÔóÑøóÝó áóåóÇ ÊóÓúÊóÔúÑöÝúåõ Ýóãóäú æóÌóÏó ãöäúåóÇ                          ãóáúÌóÃð Ãóæú ãóÚóÇÐðÇ ÝóáúÜíóÚõÐú Èöåö  ãÊÝÞ                          Úáíå&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang                          mencoba-coba melongok fitnah-fitnah tersebut niscaya                          fitnah-fitnah itu akan menimpanya, dan barangsiapa                          mendaptakan perlindungan hendaklah dia berlindung                          kepada” (Muttafaqun Alaihi)&lt;br /&gt;Dan maksud dari                          perlindungan tersebut di jelaskan Rasulullah Õáì Çááå                          Úáíå æÓáã dalam suatu riwayat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;                         &lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Ýóãóäú ßóÇäó áóåõ                          ÅöÈöáñ ÝóáúÜíóáúÍóÞú ÈöÅöÈöáöåö ÑæÇå                          ãÓáã&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mempunyai                          unta, hendaklah dia pergi dengan membawa untanya” (HR.                          Muslim)&lt;br /&gt;Dan dalam shahih Muslim dari Jabir bin                          Abdillah disebutkan bahwa ada seorang wanita dari Bani                          Makhzuwah mencuri lalu dibawa kepada Nabi Õáì Çááå Úáíå                          æÓáã maka diapun meminta perlindungan kepada ummu                          salamah :&lt;br /&gt;“Ada seorang yang berlindung di baitullah                          maka diutuslah kepadanya seorang utusan” (HR.                          Muslim)&lt;br /&gt;Perlu diingat bahwa Islam sangat menganjurkan                          untuk membantu dan melindungi orang-orang yang                          membutuhkan perlindungan, sebagaimana sabda Rasulullah                          Õáì Çááå Úáíå æÓáã :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;                         &lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; ÇõäúÕõÑú                          ÃóÎóÇßó ÙóÇáöãðÇ Ãóæú ãóÙúáõæãðÇ  ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí                          æãÓáã&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Tolonglah saudaramu                          dalam keadaan dia berbuat zhalim atau didzalimi Karena                          ini maka hendaklah orang  yang dimintai                          perlindungannya dari kedzaliman dan kejahatan seseorang                          dapat melindungi orang yang meminta                          perlindungannya&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Tetapi                          perlindungan ini untuk melegatimasi perbuatan yang haram                          atau untuk meninggalkan kewajiban maka hukumnya haram                          dan tidak boleh dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;Syarah                          Tsalatsatul Ushul, Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al                          Utsaimin&lt;br /&gt;Fathul Majid Li Syarhi Kitabit Tauhid, Abd.                          Rahman Bin Hasan Bin Muhammad Bin Abdul                          Wahhab&lt;br /&gt;Muqaddimah Tafsir Ibnu                          Katsir&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-8328748460544930058?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/8328748460544930058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/istiadzah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/8328748460544930058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/8328748460544930058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/istiadzah.html' title='ISTIADZAH'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-6242912210746551378</id><published>2009-03-22T23:19:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T23:24:40.935-07:00</updated><title type='text'>INDAHNYA BELUM TERBAYANGKAN</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;Indahnya Belum                          terbayangkan &lt;/td&gt;                       &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;&lt;a title="PDF" href="javascript:void%20window.open('http://www.wahdah.or.id/wahdah/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=960',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');"&gt;&lt;img alt="PDF" src="file:///D:/INDAHNYA%20BELUM%20TERBAYANGKAN_files/index_files/pdf_button.png" name="image" align="middle" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;/td&gt;                       &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;&lt;a title="Cetak" href="javascript:void%20window.open('http://www.wahdah.or.id/wahdah/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=960&amp;amp;Itemid=54&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');"&gt;&lt;img alt="Cetak" src="file:///D:/INDAHNYA%20BELUM%20TERBAYANGKAN_files/index_files/printButton.png" name="image" align="middle" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;/td&gt;                       &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;&lt;a title="E-mail" href="javascript:void%20window.open('http://www.wahdah.or.id/wahdah/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=emailform&amp;amp;id=960',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no');"&gt;&lt;img alt="E-mail" src="file:///D:/INDAHNYA%20BELUM%20TERBAYANGKAN_files/index_files/emailButton.png" name="image" align="middle" border="0" /&gt;                    &lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;                                                             &lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;                       &lt;td colspan="2" valign="top" width="70%" align="left"&gt;&lt;span class="small"&gt;Ditulis oleh Administrator                          &lt;/span&gt;   &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;                     &lt;tr&gt;                       &lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;Kamis, 22                          November 2007 &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;                     &lt;tr&gt;                       &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;                         &lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;&lt;strong&gt;Indahnya Belum                          Terbayangkan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;                         &lt;div align="justify"&gt;Cita-cita tertinggi seorang Muslim                          adalah surga. Memasukinya dan hidup di dalamnya adalah                          sebuah angan-angan yang menghantui sepanjang usia                          berjalan.&lt;/div&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;TAMASYA KE                          SURGA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ayat-ayat tentang Surga:&lt;br /&gt;Allah                          ÓÈÍÇäå æÊÚáì.telah menggambarkan keadaan surga dalam                          banyak ayat Al Qur'an, di antaranya adalah firman Allah                          yang artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa                          itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata                          air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka),                          "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman." Dan                          Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati                          mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk                          berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak                          merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak                          akan dikeluarkan daripadanya."  (QS. Al Hijr:                          45-48).&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;"Dan orang-orang yang beriman paling                          dahulu, mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.                          Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari                          orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari                          orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan                          yang bertahta emas dan permata, seraya bertelekan di                          atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh                          anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas,                          cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir,                          mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan                          buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging                          burung dari apa yang mereka inginkan. Dan ada                          bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang                          tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah                          mereka kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya                          perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang                          menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan                          salam. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan                          kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tak                          berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),                          dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah,                          dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti                          (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya, dan                          kasur-kasur yang tebal lagi empuk. Sesungguhnya Kami                          menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung                          dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta                          lagi sebaya umurnya. (Kami ciptakan mereka) untuk                          golongan kanan, (yaitu) segolongan besar dari                          orang-orang yang terdahulu dan segolongan besar pula                          dari orang-orang yang kemudian." (QS. Al Wâqi'ah:                          10-40).&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Semua nikmat yang                          disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, namanya                          sama dengan yang dilihat di dunia. Tetapi, ketika                          disebut benda-benda ini, hanya sebagai penamaan agar                          dipahami penduduk dunia. Adapun yang sebenarnya dan                          hakekat kesenangan-kesenangan, diserahkan kepada Allah                          Yang Maha Agung dan Maha Bijaksana.&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Sifat-sifat Surga dalam Sunnah                          Shahihah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã telah                          menerangkan tentang sifat-sifat surga yang dijanjikan                          Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì. kepada orang-orang bertakwa dengan                          keterangan yang dalam, detail dan                          gamblang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Pintu-pintu                          surga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã                          bersabda,&lt;/p&gt;                         &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Ýöíú ÇáúÌóäøóÉö                          ËóãóÇäöíóÉõ ÃóÈúæóÇÈò ÝöíúåóÇ ÈóÇÈñ íõÓóãøó ÇáÑøóíøóÇäó                          áÇó íóÏúÎõáõåõ ÅöáÇøó ÇáÕøóÇÆöãõæúäó&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;"Di dalam surga ada delapan pintu, di                          antaranya ada yang bernama Ar-Rayyân, tidak akan                          dimasuki kecuali oleh orang-orang yang (rajin)                          berpuasa." (HR. Bukhâri).&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;2. Tidak ada kematian dalam                          surga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã                          bersabda, artinya:&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;"Jika penduduk surga telah memasuki                          surga, maka ada yang berseru, "Sesungguhnya kalian akan                          tetap hidup dan tidak akan mati. Kalian akan tetap sehat                          dan tidak akan sakit. Kalian akan tetap muda dan tidak                          akan tua. Dan kalian akan tetap mendapat nikmat dan                          tidak akan mendapat kesusahan." (HR. Muslim).&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;3. Sifat-sifat penduduk                          surga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã                          bersabda, ”Akan masuk surga sekelompok orang dalam                          keadaan memiliki rambut yang sedikit, seakan-akan mata                          mereka bercelak, yaitu berumur 33 tahun atau 30 tahun."                          (Shahîhul Jâmi': 7928).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akan masuk surga                          beberapa kaum yang hati mereka seperti burung (yaitu                          dari sisi kelembutan, ketakutan, dan kehormatan).                          (Shahîhul Jâmi': 7924).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kaum Mukminin di surga                          akan diberi demikian dan demikian dalam urusan jimak                          (bersetubuh). Ada sahabat yang bertanya, "Wahai                          Rasulullah! Apakah dia mampu untuk itu?" Nabi                           berkata, "Dia akan diberi seratus kekuatan." (Shahîhul                          Jâmi': 7962).&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;4. Wanita-wanita penghuni                          surga&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã                          bersabda, "Kalaulah seorang wanita penduduk surga                          menampakkan dirinya kepada penduduk dunia, niscaya dia                          akan menerangi antara keduanya dan bumi akan penuh                          dengan wewangian. Dan sungguh penutup kepalanya lebih                          baik daripada dunia dan seisinya." (HR. Bukhâri).&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;5. Makanan dan minuman penduduk                          surga&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã                          bersabda, artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para penduduk surga akan                          makan dan minum di dalamnya. Mereka tidak buang air                          besar, tidak beringus, tidak buang air kecil. Akan                          tetapi mereka hanya makan. Suara kenyang yang keluar                          dari mulut mereka seperti bau misk. Mereka diberikan                          tasbih seperti hembusan nafas (itu menjadi pembawaan                          mereka)." (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya di surga                          ada lautan air, lautan madu, lautan susu, lautan khamr,                          kemudian berubah menjadi sungai." (Shahîhul Jami':                          2118).&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;6. Kamar-kamar di                          surga&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;"Di surga ada beberapa kamar yang                          luarnya bisa dilihat dari dalam dan yang isinya bisa                          dilihat dari luar. Itu disediakan Allah bagi orang yang                          memberikan makanan, melembutkan ucapan, selalu berpuasa                          dan shalat di waktu malam ketika manusia sedang terlelap                          tidur." (Shahîhul Jami': 2119).&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;7. Kemah-kemah, taman-taman dan                          debu-debu surga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Õáì Çááå Úáíå                          æÓáã bersabda, "Bagi kaum mukminin di surga ada kemah                          dari permata yang terjalin. Panjangnya enam puluh mil.                          Dan kaum mukminin di dalamnya akan mendapatkan keluarga                          yang selalu digilirnya dan masing-masing tidak melihat                          yang lainnya." (Muttafaqun 'alaih).&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;Dalam sebuah hadits tentang Mi'raj dari                          Anas bin Malik ÑÖí Çááå Úäå dari Nabi Õáì Çááå Úáíå                          æÓáã, beliau bersabda, "….Kemudian aku berjalan bersama                          Jibril hingga sampai ke Sidratul Muntaha. Ternyata dia                          dilingkupi oleh warna-warni yang aku tidak tahu apa itu.                          Beliau berkata, "Kemudian aku dimasukkan ke surga yang                          berisi kemah-kemah dan kubah-kubah dari permata,                          ternyata debunya dari misk." (Muttafaqun 'alaih).&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;8. Pohon-pohon                          surga&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Nabi Õáì Çááå Úáíå æÓáã bersabda, "Di                          surga ada sebuah pohon yang bila seseorang berjalan                          dengan kendaraan yang paling bagus dan mampu berjalan                          dengan lama seratus tahun, niscaya tidak akan selesai                          melewatinya." (Muttafaqun 'alaihi).&lt;br /&gt;Rasulullah Õáì                          Çááå Úáíå æÓáã juga telah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;ãóÇ Ýöíú ÇáúÌóäøóÉö                          ÔóÌóÑóÉñ ÅöáÇøó æóÓóÇÞõåóÇ ãöäú                          ÐóåóÈò&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;p align="justify"&gt;"Tidak ada sebuah pohon pun di surga                          melainkan batangnya dari                          emas."       (Shahîhul                          Jami': 5523).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;9. Pasar di                          surga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã                          bersabda, "Di surga ada sebuah pasar yang diramaikan                          hanya hari Jumat, maka ketika itu angin berhembus dari                          utara, kemudian menerpa wajah-wajah mereka hingga                          menjadi semakin indah. Maka mereka kembali kepada                          keluarga-keluarga mereka dalam keadaan mereka juga                          semakin indah. Maka keluarga-keluarga mereka berkata                          kepada mereka, "Demi Allah, kalian semakin indah setelah                          kami tinggalkan." Mereka juga berkata, "Kalian pun                          semakin indah." (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10.                          Sungai-sungai di surga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas ÑÖí Çááå                          Úäå, bahwasanya Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã bersabda,                          "Aku masuk ke dalam surga, ternyata di sana ada sebuah                          sungai yang dipinggirnya ada kemah-kemah dan permata.                          Maka aku memukulkan tanganku ke air yang mengalir itu.                          Ternyata airnya adalah misk yang sangat harum. Maka aku                          bertanya, "Apa ini wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Ini                          adalah Al Kautsar yang diberikan Allah                          kepadamu." (Shahîhul Jami':                          3260).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;11. Kenikmatan penghuni surga yang                          paling agung&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Nabi Õáì Çááå Úáíå æÓáã                          bersabda, "Bila penduduk surga telah masuk ke surga dan                          penduduk neraka masuk ke neraka, maka ada yang berseru,                          "Wahai penduduk surga! Sesungguhnya kalian memiliki                          janji di sisi Allah yang ingin Dia tunaikan kepada                          kalian." Maka mereka bertanya, "Apakah itu? Bukankah Dia                          telah memberatkan amal kebaikan kami, memutihkan                          wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga dan                          menyelamatkan kami dari neraka?" Maka disingkaplah                          tirai, mereka pun melihat kepada Allah. Demi Allah,                          Allah tidak pernah memberikan sesuatu yang paling mereka                          cintai dan paling menyejukkan pandangan mereka daripada                          melihat wajah-Nya." (Shahîhul Jami':                          535).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SIAPA PENGHUNI                          SURGA?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Para penghuni surga adalah                          orang-orang yang merasa takut kepada Allah. Rasa takut                          yang mendorong kepada kebaikan dan mencegah dari setiap                          penyimpangan. Rasa takut inilah yang membuat segala                          ibadah dan amal yang diperintakan oleh Rasulullah Õáì                          Çááå Úáíå æÓáã menjadi ikhlas, bersih dari noda riya dan                          syirik.(Al Fikrah)&lt;/p&gt;                         &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-6242912210746551378?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/6242912210746551378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/indahnya-belum-terbayangkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/6242912210746551378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/6242912210746551378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/indahnya-belum-terbayangkan.html' title='INDAHNYA BELUM TERBAYANGKAN'/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-1061221463578213572</id><published>2009-03-22T03:19:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T23:14:25.083-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;span style="text-decoration: underline; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;KESALAHAN DALAM USIA MUDAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="2" valign="top"&gt;                         &lt;div style="color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;strong&gt;Kesalahan                          Dalam Usia Muda (II)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(Al                          Balagh Ed.67/Th.II/1427 H)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;p&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Buletin al-Pada edisi 66 yang laluBalagh mengangkat masalah yang banyak mendera para pemuda. Kelompok usia yang menjadi tumpuan harapan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                         &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);" align="justify"&gt;Masalah tersebut jika dibiarkan akan berlanjut menjadi kebiasaan dimasa tua. Pada edisi kali ini redaksi kembali akan melanjutkan pemaparan masalah tersebut, agar para pemuda bisa menghindarinya, atau mencari ‘ilaj (obat) bagi mereka yang mengalaminya. Selamat menyimak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6.                          Kebiasaan Masturbasi (Onani)&lt;/strong&gt;                              &lt;br /&gt;Biasanya para pemuda yang melakukan ini karena khawatir terjerumus ke dalam dosa zina, maka dengan itu ia berharap agar dapat meredam gejolak syahwatnya. Namun kenyataannya tidak sesuai yang di harapkan, malahan justru menambah besar dorongan hawa nafsunya. Ia bukanlah obat penyembuh, dan bukanlah cara penyaluran yang sesuai syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat yang dianjurkan adalah menikah, menjaga pandangan, puasa, menyibukkan diri dengan kegiatan positif, mencari teman yang baik, menjauhi tempat-tempat yang banyak fitnah, tidak menonton acara-acara yang merusak dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7.                          Suka Meniru Trend Orang Kafir                          (Tasyabbuh)&lt;/strong&gt;                                                                       &lt;br /&gt;Masalah ini cukup serius dan membahayakan, muncul akibat perasaan kurang dan rendah kemauan yang membawanya berputar dalam lingkaran keburukan. Tidak mau menghiasi diri dengan tingginya akhlak yang diajarkan oleh agamanya sendiri. Mereka lupakan sabda Nabi Sallallahu ‘alahi Wasallam , “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongnya.“(HR Ahmad dan Abu Dawud dishahihkan oleh Al-Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8. Hobi                          Mengumbar Lisan&lt;/strong&gt;                                                               &lt;br /&gt;Bentuknya berupa mengejek dan mengolok-olok orang, menggunjing dan adu domba, dusta, mencela dan melaknat serta mengucapkan perkataan-perkataan buruk dan jorok. Allah Ta’ala berfirman : “ Wahai orang-oarng yang beriman jauhilah dari banyak berprangsangka sesunggunya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu menacari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain, Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging sudaranya yng sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah penerima tobat dan penyayang. (Qs al- Hujarat : 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;9. Durhaka Kepada                          Kedua    Orang                          Tua&lt;/strong&gt;                                      &lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah mengingatkan kita semua dengan firman-Nya :”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya” (QS.Luqman :14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Nabi Sallallauhu ‘alahi Wa Sallam, “Terlaknatlah siapa saja yang mendurhakai kedua orang tuanya.” (HR. Ath-Thabrani dishahihkan oleh Al-Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10.                          Mendengarkan Nyanyian dan                          Musik&lt;/strong&gt;                              &lt;br /&gt;Para pemuda dan juga kebanyakan manusia amat perhatian dengan musik dan nyanyian-nyanyian, hingga rumahnya penuh dengan koleksi lagu-lagu yang boleh dibilang sebagian besarnya berbicara tentang cinta, syahwat dan segala yang memancing tindakan buruk. Nabi telah mensinyalir melalui sabdanya, “Sungguh akan datang suatu zaman pada umatku ini dimana saat itu orang-orang menganggap halal perzina-an, sutra, khamer dan musik.”(HR. Al-Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;11.                          Bangga   dengan Perbuatan                          Dosa&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Amat banyak anak muda yang merasa bangga apabila dapat mencelakai sesamanya, memukul atau menghajar hingga terluka, kuat minum sekian botol, tidak puasa Ramadhan dan lain sebagainya. Andaikan ia tidak terang-terangan dan merasa bangga dengan dosanya, maka besar kemungkinan Allah akan mengampuninya, karena dalam Hadits Muttafaq ‘Alaih, Nabi Sallallahu ‘alahi Wasallam telah bersabda, “bahwa seluruh umatnya akan diampuni kecuali al-mujahirun (orang yang terang-terangan dalam berbuat dosa)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;12. Tidak mensyukuri                          nikmat Allah Ta’ala dan                          menyia-nyiakannya.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sangat banyak nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kita. Terkhusus kapada para pemuda,nikmat Allah sangat melimpah yang tidak diberikan kepada jenjang usia kanak-kanak dan orang tua. Semangat yang menyala-nyala, idealisme yang melangit, kekuatan yang prima adalah di antara nikamat itu. Semua ini kalau diarahkan untuk kemajuan Islam,maka sungguh banyak sekali pekerjaan yang berkaitan dengan kemaslahatan kaum muslim yang bisa diselesaikan. Tapi lihatlah para pemuda di sekitar kita. Kebanyakan mereka menghabiskan waktu mereka di tempat maksiat atau di arena kesia-siaan. Semua ini adalah bentuk penyia-nyiaan nikmat masa muda yang seharusnya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;13. Suka mengikuti program                          obrolan dengan lawan jenis via telepon.&lt;/strong&gt;                       &lt;br /&gt;Para pelaku ghazwul fikr memang merancang program ini untuk merusak generasi muda muslim. Ini adalah salah satu bentuk pemborosan waktu yang bisa mengarah keperbuatan dosa. Betapa tidak,yang membuat para pemuda betah duduk berlama-lama dan berhaha-hihi adalah suara wanita yang membangkitkan angan-angan, mendayu-dayu dan menggelorakan syahwat. Bagi mereka yang sudah terjerembab dalam ‘getah’ itu , maka berusahalah lepas sekuat mungkin dengan bergaul dengan orang-orang shalih, sambil terus berdo’a kepada Allah.&lt;br /&gt;Sumber : Kutaib “Min Akhtha’ Asy Syabab” Qism Al Ilmi Darul Wathan Riyadh. (Dengan tambahan dan perubahan seperlunya)&lt;br /&gt;(Diterbitkan oleh : Media Al Balagh WI                          Cabang Makassar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt; &lt;span class="post-author vcard"&gt; Diposkan oleh &lt;span class="fn"&gt;NASRUL_CELL&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; di &lt;a class="timestamp-link" href="http://mailcell.blogspot.com/2009/03/indahnya-belum-terbayangkan.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-03-07T01:53:00-08:00"&gt;01:53&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="reaction-buttons"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="star-ratings"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="http://mailcell.blogspot.com/2009/03/indahnya-belum-terbayangkan.html#comments" onclick=""&gt;0 komentar&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="post-icons"&gt;&lt;span class="item-control blog-admin pid-1607503553"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3014529354897117508&amp;amp;postID=6200927493215986414" title="Edit Entri"&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt; &lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-3"&gt; &lt;span class="post-location"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-6200927493215986414"));  &lt;/script&gt;  &lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt; &lt;a name="2402666771741937626"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://mailcell.blogspot.com/2009/03/pulsa-murah.html"&gt;Pulsa Murah&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; Ingin Menjadi agen pulsa yang tidak perlu target dan pulsa relatif murah cukup dengan mendaftarkan diri sebagai member silahkan hubungi kami di Nomor 085299991299 atau 085656810111  &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt; &lt;span class="post-author vcard"&gt; Diposkan oleh &lt;span class="fn"&gt;NASRUL_CELL&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; di &lt;a class="timestamp-link" href="http://mailcell.blogspot.com/2009/03/pulsa-murah.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-03-06T19:39:00-08:00"&gt;19:39&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="reaction-buttons"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="star-ratings"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="http://mailcell.blogspot.com/2009/03/pulsa-murah.html#comments" onclick=""&gt;0 komentar&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-backlinks post-comment-link"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-1607503553"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3014529354897117508&amp;amp;postID=2402666771741937626" title="Edit Entri"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="http://www.blogger.com/img/icon18_edit_allbkg.gif" width="18" height="18" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt; &lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-3"&gt; &lt;span class="post-location"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;if (window['tickAboveFold']) {window['tickAboveFold'](document.getElementById("latency-2402666771741937626")); } &lt;/script&gt; &lt;!-- google_ad_section_end --&gt;  &lt;div class="blog-pager" id="blog-pager"&gt; &lt;/div&gt;     &lt;div id="sidebar-wrapper"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;!-- spacer for skins that want sidebar and main to be the same height--&gt; &lt;div class="clear"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-1061221463578213572?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/1061221463578213572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/indahnya-belum-terbayangkan-kesalahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/1061221463578213572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/1061221463578213572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/indahnya-belum-terbayangkan-kesalahan.html' title=''/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1837428861169771610.post-7396769718966464803</id><published>2009-03-22T03:09:00.002-07:00</published><updated>2009-03-22T03:18:54.972-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;table style="color: rgb(51, 51, 255);" class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;Istiqamah         &lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;     &lt;a href="http://www.wahdah.or.id/wis/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=1525" target="_blank" onclick="window.open('http://www.wahdah.or.id/wis/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=1525','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" title="PDF"&gt;      &lt;img src="file:///D:/..%20%20Wahdah%20Islamiyah%20%20..._files/a_data/pdf_button.png" alt="PDF" name="PDF" align="middle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;    &lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;      &lt;a href="http://www.wahdah.or.id/wis/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=1525&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0&amp;amp;Itemid=188" target="_blank" onclick="window.open('http://www.wahdah.or.id/wis/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=1525&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0&amp;amp;Itemid=188','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" title="Cetak"&gt;       &lt;img src="file:///D:/..%20%20Wahdah%20Islamiyah%20%20..._files/a_data/printButton.png" alt="Cetak" name="Cetak" align="middle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;     &lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;     &lt;a href="http://www.wahdah.or.id/wis/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=emailform&amp;amp;id=1525&amp;amp;itemid=188" target="_blank" onclick="window.open('http://www.wahdah.or.id/wis/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=emailform&amp;amp;id=1525&amp;amp;itemid=188','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no'); return false;" title="E-mail"&gt;      &lt;img src="file:///D:/..%20%20Wahdah%20Islamiyah%20%20..._files/a_data/emailButton.png" alt="E-mail" name="E-mail" align="middle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;    &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;    &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;             &lt;table style="color: rgb(51, 51, 255);" class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="70%" align="left"&gt;      &lt;span class="small"&gt;        Ditulis oleh Administrator     &lt;/span&gt;             &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;       &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" class="createdate" valign="top"&gt;      Jumat, 22 Agustus 2008    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;     &lt;div align="center"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;I S T I Q O M A H&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="right"&gt;إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.&lt;/div&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya mereka yang berkata: “Rabb kami adalah Allah”, kemudian mereka beristiqomah, maka tak ada baginya rasa takut dan duka cita. Meraka adalah penghuni syurga kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa-apa yang mereka perbuat”. (Qs. Al Ahqaaf/46:13-14). &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Setiap muslim sadar, bahwa ia adalah makhluk yang diciptakan untuk tujuan ibadah kepada Allah. Ibadah dalam arti yang sebenarnya. Yakni, mengikhlaskan seluruh gerak kehidupan semata hanya kepada Allah Ta’ala, berupa perkataan dan perbuatan baik yang sifatnya lahir maupun batin. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Namun, dalam rangka merealisasikan hal tersebut, tak jarang seorang muslim dihadapkan oleh beraneka macam tantangan, rintangan ataupun makar. Baik berupa halangan atau makar yang sengaja diciptakan oleh musuh-musuh Islam (kaum kuffar), maupun yang berasal dari kaum muslimin lain yang rela atau tidak sadar telah menjadi kaki tangan thogut dan syetan. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Demikian pula manusia itu adalah makhluk yang lemah dan rentan terhadap ujian. Ditambah tabiat hati yang gampang terbolak-balik. Olehnya, kemungkinan tergelincir ke jurang maksiat dan dosa sangat besar. Makanya, tidak boleh tidak, setiap muslim butuh akan konsep istiqomah dalam hidup ini. Terlebih saat mana godaan, fitnah dan ujian telah meruap ke permukaan hingga tak ada yang bisa lepas dari cengkramannya. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hakekat dan anjuran istiqomah.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Istiqomah artinya tegak dan lurus serta tidak condong. Dalam artian, sebagaimana ungkapan Umar Ibnul Khattab ra, tegar dan komit dalam menunaikan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan tuntunan Rasullullah shallallahu alaihi wasallam. Disamping tidak condong atau menyimpang kepada jalan-jalan lain yang menjerumuskan ke jurang kebinasaan. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Definisi ini, sebenarnya telah diisyaratkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tatkala membuat suatu garis lurus dengan tangan beliau, seraya bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div align="right"&gt;قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأ : { إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ }&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;“Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau membuat garis-garis lain di samping kiri dan kanannya, dan bersabda: “Ini adalah jalan-jalan (yang lain), tidak ada satupun darinya melainkan padanya ada syetan yang menyeru kepadanya”. Beliau lalu membaca ayat: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia; dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya”. (Qs. Al An’am/6:153). (HR. Ahmad no: 3928, al-Hakim no: 3199, Ibnu Hibban no: 6, berkata al-Haitsami dalam al-Majma' 3/158: Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bazzar padanya ada perawi bernama 'Ashim bin Bahdalah, ia perawi tsiqoh namun ada kelemahan). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p align="justify"&gt;Mengingat pentingnya hal ini, maka Islam memberi perhatian yang besar dan mengarahkan umatnya agar berpegang kepadanya. Ta’ala berfirman: “Dan tetaplah kamu beristiqomah (berada di jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) kepada yang telah bertaubat bersama kamu dan janganlah engkau melampaui batas”. (Qs. Huud/11:112). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Juga sabda Rasulullah shallallahu alaihiwasallam kepada seorang yang minta diajarkan satu perkataan dalam Islam yang sangat agung: &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="right"&gt; &lt;p&gt;قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ucapkanlah: “Aku beriman, kemudian beristiqomahlah kamu”. (HR. Muslim no: 55, Ahmad no: 14869). &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sunnatullah, kebenaran pasti diuji.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="right"&gt; &lt;p&gt;كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي نَبِيًّا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;“Seakan aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam mengisahkan tentang seorang dari para anbiya alaihi salam yang dipukuli kaumnya hingga mengeluarkan darah. Lantas sambil menyeka darah yang mengalir menutupi wajahnya ia berdo’a: “Wahai Allah, ampuni kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui”. (Muttafaqun alaihi).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Sabda beliau di atas, mengajak kita agar selalu merenungi sirah perjalanan para anbiya terdahulu. Utamanya baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Bahwa perjuangan da’wah mereka dahulu, dipenuhi oleh berbagai onak dan cobaan. Tidak ada seorang rasul-pun, melainkan merasakan hal tersebut. Dan hal itu dirasakan pula orang-orang yang setia menyambut dan mengikuti seruan mulia mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun onak dan rintangan itu tidak lantas membuat mereka patah semangat dan surut ke belakang. Bahkan sebaliknya, ia melahirkan satu optimis baru, dimana optimis tersebut terwarisi dari satu generasi ke generasi yang lain, "semakin hebat ujian dan cobaan pertanda nushrah (pertolongan) Allah Ta’ala sudah dekat". Syaratnya, istiqomah dan tidak putus asa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Khabbab Ibnu Arats radhiallahu anhu berkata, kami pernah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kala beliau berbaring di bawah bayang-bayang ka’bah, lalu kami mengadukan perihal cobaan yang menimpa kami dan berkata: &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="right"&gt; &lt;p&gt;أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللَّهَ لَنَا قَالَ كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;“Wahai Rasululah tidakkah engkau berdoa kepada Allah (agar menurunkan pertolongan)?” Beliau bersabda: “Sungguh sebelum kalian ada orang yang diserut dengan sisir besi hingga daging tubuhnya terpisah dari tulang. Namun hal itu tidak memalingkan ia dari agamanya. Ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji, lalu badannya dibelah menjadi dua bagian. Namun hal itu juga tidak dapat memalingkan ia dari agamanya. Sungguh, Allah Ta’ala akan merubah keadaan ini, hingga seorang berkendaraan dari San’a menuju Hadramaut merasa aman, dan tidak merasa takut melainkan hanya kepada Allah dan atas kambing-kambingnya dari terkaman serigala. Akan tetapi kalian terlalu tergesa-gesa”. (HR. Bukhari no: 3343 dan Ahmad no: 20161).&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keutamaan sikap istiqomah.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, banyak dari kaum muslimin tidak menyadari kepentingan istiqomah dalam kehidupan beragama. Padahal, kedudukan istiqomah amat tinggi dan agung. Dengannya kekuatan dan eksistensi Islam tetap abadi di atas permukaan bumi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, Istiqomah menghasilkan banyak sekali buah yang bermanfaat bagi seorang muslim. Diantaranya: &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;: Malaikat akan turun kepadanya membawa rahmat, berkah, sakinah (ketenangan jiwa), kelapangan dan sebagainya. Karena, manusia itu mungkin saja didatangi oleh malaikat dengan rahmat, dan tidak jarang dikunjungi oleh syetan dengan membawa keburukan. Allah Ta’ala berfirman: “Maukah Aku beritahu, kepada siapakah syetan-syetan itu turun?, mereka turun kepada setiap pendusta lagi yang banyak berbuat dosa”. Mereka menyodorkan pendengaran (kepada syetan) itu, dan kebanyakan mereka adalah manusia-manusia pendusta”. (Qs. Asy Syu’ara/26:221-223).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;: Kabar gembira dari para malaikat, agar tidak takut dan sedih. Lantaran jika manusia dalam hidupnya selalu takut dan sedih, maka ia akan ditimpa rasa gelisah, susah dan pesimis. Dimana jika dibiarkan berlarut-larut, bukan saja menimbulkan efek buruk bagi hati, lebih dari itu, ia akan membinasakan jasmani secara perlahan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Dikatakan pula, malaikat akan turun kepada mereka tatkala berada di ambang kematian. Maka dikabarkan kepadanya, agar jangan bersedih karena akan meninggalkan dunia, harta, keluarga dan sebagainya. Dan jangan pula merasa takut akan kehidupan akhirat yang dasyat. Tapi bergembiralah dengan syurga yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang shaleh lagi istiqomah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;: Nushrah dan pertolongan akan turun kepadanya. Lantaran istiqomah di atas jalan Allah, merupakan sebab utama yang dapat memancing pertolongan Allah Ta’ala turun. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya mereka yang berkata: “Rabb kami adalah Allah”, kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa bersedih; dan bergembiralah kamu dengan dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat”. (Qs. Al Fushshilat/41:30).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;Kata pelindung dalam ayat ini berarti penolong, pembela, penjaga, penghibur dan lain sebagainya. Yang tentunya khusus bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqomah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keempat&lt;/strong&gt;: Orang yang selalu istiqomah, kelak akan menjadi pewaris syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat yang telah lalu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Dari uraian di atas, jelaslah bagi ita akan hakekat istiqomah, keutamaan serta hajat setiap muslim kepadanya. Dan orang yang selalu istiqomah, akan menyikapi setiap ujian dan tantangan dengan hati yang lapang dan tenang serta bebas dari perasaan takut dan sedih. “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucpan yang teguh (yakni kalimah thayyibah) dalam kehidupan dunia dan akherat”. (Qs. Ibrahim/14:27). &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jalan menuju istiqomah.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;     Dalam bukunya al-Istiqomah, Syaikh Abdullah Bin Jarullah menyebutkan beberapa jalan mencapai istiqomah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;: Taubat. Yakni, membersihkan diri dari dosa dan maksiat, disertai perasaan menyesal serta tekad untuk tidak mengulangi kembali. Sungguh taubat yang dikerjakan dngan ikhlas, akan melahirkan sifat istiqomah. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang nasuha (sungguh-sungguh dan tukus), semoga Rabbmu akan menghapus kejahatan-kejahatanmu dan akan memasukkan kamu ke syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai”. (Qs.At thahrim/66:8). &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="right"&gt; &lt;p&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;“Wahai segenap manusia, bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali”. (HR. Muslim no: 4871, Ahmad no: 71714, Ibnu Hibban no: 931).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;: Muraqobah (perasaan diawasi). Dalam artian, selalu merasakan adanya pengawasan Allah Ta’ala yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui. Ingat, sifat muraqobah, jika bersemayam dalam hati, akan melahirkan sifat ihsan yang merupakan puncak penghambaan diri seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="right"&gt; &lt;p&gt;أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;“(Ihsan adalah) engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu”. (Muttafaqun alaihi).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;: Muhasabah (intropeksi diri). Muslim yang berakal, sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah mereka yang senantiasa melakukan intropeksi diri. Sebaliknya, lalai terhadap perbuatan yang telah dilakukan baik berupa kebajikan atau keburukan, pertanda ia termasuk orang tertipu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Muhasabah diri, berguna untuk mengingatkan diri sendiri tentang kekurangan dalam perkara amal shaleh. Di samping sebagai pemberi peringatan atas segala kelalaian dan dosa. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Alangkah indah ungkapan Umar Ibnul Khattab radhiallahu anhu,: &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="right"&gt; &lt;p&gt;حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا ، و زنوا أنفسكم قبل أن توزنوا&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;“Hitung-hitunglah dirimu sebelum engkau dihitung. Timbanglah dirimu sebelum engkau ditimbang pada hari kiamat kelak”. (HR. al-Tirmidzi untuk lafadz pertama no: 2383, dan Ibnu Abi Syaibah no: 18. Syaikh al-Albani berkata dalam al-Silsilah al-Dhaifah no: 1201: Mauquf). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keempat&lt;/strong&gt;: Mujahadah (bersungguh-sungguh). Artinya, seorang muslim sadar, bahwa musuh utama yang harus ia hadapi adalah hawa nafsunya sendiri. Lantaran hawa nafsu itu senantiasa condong kepada tindak kejahatan dan kekejian. Allah Ta’ala berfirman: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan”. (Qs. Yusuf/12:53).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Jika demikian keadaannya, sudah tentu ia akan termotivasi bermujahadah melawan hawa nafsu serta menolak segala ajakannya. Misalnya, tatkala nafsu mengajak untuk bermalas-malas dalam ibadah, spontan ia menolak dan mencelanya. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang bermujahadah (berjuang) mencari keridhaan Kami, maka benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan”. (Qs. Al Ankabut/29:69).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kelima&lt;/strong&gt;: Tadabbur. Yakni memikirkan dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala di alam ini. Termasuk tadabbur akan sirah perjalanan para sholihin terdahulu. Allah Ta’ala mengingatkan: “Dan semua kisah dari Rasul-Rasu,l Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu”. (Qs. Huud/11:120).&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;p&gt;Perhatikan kisah keteguhan iman tukang sihir Fir’aun tatkala menghadapi intimidasi Fir’aun (Qs. 20:71-72). Atau keberanian Ibrahim ketika dilempar ke dalam api yang membara (Qs. 21:69). Sudah tentu, kisah-kisah ini dapat menumbuhkan sikap istiqomah dan teguh dalam menjalankan ajaran dien. Wallahu a’lam.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;     &lt;span class="post-author vcard"&gt; Diposkan oleh &lt;span class="fn"&gt;NASRUL_CELL&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; di &lt;a class="timestamp-link" href="http://mailcell.blogspot.com/2009/03/istiqamah-ditulis-oleh-administrator.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2009-03-07T02:14:00-08:00"&gt;02:14&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="reaction-buttons"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="star-ratings"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="http://mailcell.blogspot.com/2009/03/istiqamah-ditulis-oleh-administrator.html#comments" onclick=""&gt;0 komentar&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-backlinks post-comment-link"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1837428861169771610-7396769718966464803?l=asroelzhinzhai.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/feeds/7396769718966464803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/istiqamah-ditulis-oleh-administrator_22.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/7396769718966464803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1837428861169771610/posts/default/7396769718966464803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asroelzhinzhai.blogspot.com/2009/03/istiqamah-ditulis-oleh-administrator_22.html' title=''/><author><name>NASRULLAH</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/_r_rBsd3-KBg/Si9ans-YYTI/AAAAAAAAABk/OTLeNwu-fJs/S220/images.jpg+4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
